| |
C © updated 01122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Nama:
Prof. DR. H. Haryono Suyono, MA
Lahir:
Pacitan, Jawa Timur, 6 Mei 1938
Pendidikan:
- Akademi Ilmu Statistik (AIS), Jakarta (1963)
- S1, S2 dan S3 di University of Chicago, Amerika Serikat (1969-1972)
Pengalaman Kerja:
- Kepala BKKBN, 1983-1993
- Menteri Negara Kependudukan dan Kepala BKKBN, Kabinet Pembangunan VI,
1993-1998
- Menko Kesra dan Taskin dan Kepala BKKBN, Kabinet Pembangunan VII, 1998
dan Kabinet Reformasi Pembangunan, 1998-1999
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06 == Haryono Suyono (Wawancara)
Kiat Keberhasilan KB
Ingat Haryono, pasti ingat kabe (keluarga berencana). Sebaliknya,
ingat kabe, pasti ingat Haryono. Ini cerminan betapa melekatnya nama
Haryono Suyono bagi keberhasilan program KB di Indonesia. Bahkan,
keberhasilannya memimpin gerakan KB di Indonesia sangat monumental.
Sekarang Haryono masih bergelut dengan masalah kependudukan dan
problematik kemiskinan. Ahli komunikasi massa, sosiolog, demograf dan
penulis kreatif ini masih giat berkeliling ke pelbagai penjuru negeri
ini. Bahkan dia hampir setiap bulan dia berkeliling ke berbagai negara
untuk mewariskan keahlian dan pengabdiannya di bidang kependudukan dan
pengentasan kemiskinan.
Haryono juga masih terus aktif menggerakkan beberapa sebuah yayasan yang
bergiat di bidang pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan SDM. Sehingga
tidak mudah mencari waktu, untuk bertemu, apalagi wawancara yang memakan
waktu lebih satu jam dengan mantan Menko Kesra dan Taskin dan Mantan
Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN ini.
Dia seorang pejabat tinggi negara yang berperan penting dalam kemajuan
program KB pada masa pemerintahan Orde Baru. Ketika reformasi bergulir,
dia pun tetap tegak berdiri dan bersuara. Bahkan tetap pada prinsip,
visi dan kedekatannya dengan mantan Presiden Soeharto, tatkala para
mantan menteri Orde Baru lainnya berembunyi bahkan ikut-ikutan
menghujat.
Berikut ini wawancara Tokoh Indonesia dengan Haryono Suyono berkenaan
dengan masalah kependudukan dan pengentasan kemiskinan serta berkaitan
dengan ulang tahun Yayasan Damandiri ke-10 (15 Januari 2006). Simak juga
pendapatnya perihal langkah pemerintah sekarang mengompensasi kenaikan
harga BBM dengan bantuan dana tunai langsung.
Selama Anda memimpin BKKBN, kinerjanya sangat baik. Apa kiat
keberhasilannya?
Berhasil tidaknya program KB, semuanya kita serahkan pada rakyat.
Pemerintah hanya jadi fasilitator. Sebenarnya rakyat itu sangat cerdas
dan antisipatif. Yang penting kita berterus terang, terbuka dan tulus.
Keterbukaan merangsang rakyat berpartisipasi. Kalaupun ada kekurangan
dana mereka bisa memaklumi, bahkan mereka sendiri yang menambah.
Jika mereka berhasil, kita hargai. Presiden menerima mereka di istana,
diberi penghargaan. Di Istana, mereka salaman dengan Presiden, sambil
saya membisiki Presiden, menjelaskan beliau ini dari Kalimantan, Bali
dan sebagainya. Saya sendiri pun dibisiki staf saya dari belakang. Saya
di belakang layar saja. Lalu Presiden mempunyai bahan bicara, dan para
akseptor itu senang disebut nama dan daerah asalnya oleh presiden.
Ketika dijamu makan, mereka yang sukses diajak duduk satu meja dengan
Presiden. Jika ditanya Presiden, mereka bicara apa adanya. Tidak perlu
ada rekayasa. Begitu pulang dari Bina Graha mereka jadi pahlawan, sudah
salaman dengan Presiden. Buktinya ada sebab mereka dipotret.
Penghargaan demikian itu dampaknya luar biasa. Setiap orang ingin jadi
akseptor KB karena ingin ke Bina Graha. Juga karena rajin ber KB, dia
dapat hadiah naik haji. Biarkan rakyat yang merasakan dirinya jadi
pahlawan.
Hal seperti ini saya anjurkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
jangan dimonopoli pemerintah. Sebab ada keluhan dari berbagai pihak
bahwa pemerintah arogan. Sekarang semuanya mau dilakukan oleh
pemerintah, rakyat tinggal tonton. Saya gambarkan, tadi tentaranya kok
nggak datang, tidak siap untuk berperang. Jadi rakyatnya diajari untuk
berperang. Kalau ada musuh, tentara tidak usah ke sana. Rakyat sendiri
yang menyelamatkan kampungnya, kan begitu. Tetapi sekarang tidak seperti
itu.
Dulu di masyarakat ada semacam pameo, banyak anak banyak rezeki?
Hal itu tidak ditentang. Kita hanya memperkenalkan sikap baru, dua anak
cukup, bahagia dan sejahtera. Kalau ada orang yang anaknya sudah tujuh
mau jadi akseptor KB, kita kasih tepuk tangan pada dia, karena meskipun
sudah banyak anak, dia berani. Dia jadi pahlawan karena mau jadi
akseptor. Dia malah senang. Jangan dia dipermalukan.
Kalau saya instruksikan untuk dipermalukan, dia tidak mau jadi akseptor.
Beri dia pujian, jangan jadi bahan kampanye ejekan. Kalau dia ikut KB,
peluangnya untuk punya anak ke delapan, hanya 1/8. Tetapi kalau
dibiarkan punya anak lagi, peluangnya 7/8. Ini sebenarnya hitungan
matematik di lapangan, tapi kalau dikasih hitungan seperti itu, para
petugas lapangan di desa jadi repot.
Tapi pameo banyak anak banyak rezeki, tentu bagi keberhasilan program KB
juga merupakan tantangan?
Ya! Tetapi saya selalu menganjurkan agar tidak menghina orang yang
terlanjur punya anak banyak, tidak mengucilkan mereka, dan memberikan
pelayanan yang berbeda. Tidak ada satu pun poster sepanjang saya
memimpin BKKBN, membandingkan punya anak banyak sengsara, anak sedikit
bahagia. Di negara-negara lain banyak poster seperti itu. Tetapi di
Indonesia tidak ada. Tidak ada poster resmi yang membandingkan anak
banyak dan anak sedikit. Yang ada wajah cerah dari bapak dan ibu dan dua
anak. Itu saja yang di bolak-balik. Jadi setiap orang bercita-cita
seperti itu, perkara punya anak tiga, empat atau lebih, itu urusan lain,
biarkan saja.
Norma keluarga kecil bahagia sempat jadi panutan di masyarakat, tetapi
ke depan bagaimana, tidak jelas lagi?
Kita memang agak prihatin. Sejak tahun 1998, masalah itu up and down.
Masalah kependudukan seakan-akan sudah selesai, padahal belum selesai.
Tren dunia memang agak menurun. Tetapi penduduk kita tetap bertambah.
Terjadi kelipatan-kelipatan yang sangat tinggi pada usia dewasa dan
Lansia. Usia dewasa, 15-65 tahun, melipat dua sampai tiga kali dibanding
keadaan tahun 1970. Sementara kita masih bisa bertahan pada usia di
bawah 15 tahun, gara-gara keberhasilan KB. Tapi, karena keberhasilan
masa lalu seakan-akan gelembungan di bawah itu. Kalau ini dipepet, akan
naik ke atas, pada penduduk usia dewasa dan tua.
Masalahnya sekarang, akan menjadi keuntungan besar kalau tersedia
lapangan kerja. Kalau tidak ada kesempatan kerja dan kesempatan belajar,
ini akan jadi malapetaka. Jadi, masalah kependudukan berikutnya adalah
bagaimana menyediakan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan fasilitas
kerja untuk generasi yang tumbuh dengan sehat.
Karena mestinya dulu mati karena tingginya angka kematian. Tidak jadi
mati bahkan tumbuhnya menjadi bagus, ini diluar dugaan. Usia harapan
hidup sudah melewati angka 65 tahun. Anak-anak usia SMP dan SMA
meningkat antara 50 sampai 60 persen. Dari sudut penyediaan sekolah
saja, Departemen Pendidikan harus menaikkan anggaran karena kebutuhannya
naik. Belum lagi dari segi fasilitas dan kualitas.
Sekarang, orang berusia tua susah mati. Sudah tiga kali lipat bila
dibandingkan keadaan tahun 1970. Pada tahun 2025, diperkirakan naik
kira-kira 8-9 kali lipat dari keadaan tahun 1970. Mereka sukar mati
karena kesehatanya makin bagus dan fasilitas-fasilitas makin bagus.
Orang-orang seperti usia saya (67 tahun), mulai merasakan yang kropos
tulang, sakit-sakitan, karena pada usia Balitanya tidak mendapatkan
pemeliharaan yang bagus. Sebenarnya tubuh ini tidak kuat, tapi karena
dibantu segala macam obat kuat, jadi bersemangat.
Keberhasilan Anda sangat momumental di dalam soal KB, bukan hanya diakui
di dalam tetapi juga di luar negeri?
Selama 32 tahun memerintah, Pak Harto berpidato di forum PBB, bukan
karena politik luar negeri, bukan karena keberhasilan pembangunan,
tetapi karena keberhasilan KB. Beliau, untuk itu, mendapatkan
penghargaan PBB. Itu yang kesatu.
Kedua, Pak Harto datang lagi ke sana karena didorong oleh negara-negra
berkembang anggota non-blok untuk mewakili mereka menyatakan komitmen
terhadap program kependudukan. Setelah itu, Pak Harto tidak pernah
tampil lagi di markas PBB di New York. Pernah tampil di forum PBB di
Roma, tidak di New York, lantaran keberhasilan dalam swasembada beras.
Sekarang, apa peran Anda dalam bidang kependudukan dan pengentasan
kemiskinan?
Di panggung internasional tetap. Akhir Nopember, saya diundang oleh
pemerintah India dan salah satu lembaga PBB untuk konferensi tentang
kesehatan. Saat yang sama pemerintah Indonesia mengadakan konferensi
yang sama. Di Indonesia, saya masih dijadikan teladan, tapi tidak dalam
kapasitas resmi. Barangkali karena sisa-sisa laskar Pajang-nya saja.
Peranan yang dulu, di mana Indonesia pernah menjadi mercusuarnya
kependudukan, sekarang digantikan oleh RRC, Korea dan Thailand. Kita
sebagai pengikut.
Selaku pemimpin Yayasan Damandiri, apa aktivitas Anda?
Menggalang dana sejahtera mandiri. Yayasan Damandiri berdiri sejak 15
Januari 1994, kemudian menjadi matang tahun 1995, dengan adanya gerakan
sadar menabung. Setelah timbul kesadaran menabung, muncul gerakan
menabung, kemudian diberikan bantuan untuk usaha kecil dan mikro. Nah,
usaha kecil dan mikro, dananya dari Yayasan Damandiri.
Bagaimana konsepnya?
Konsepnya pemberdayaan. Lapangan usahanya di bidang kewirausahaan,
kesehatan dan pendidikan. Di bidang kewirausahaan, lebih khusus lagi,
bagi ibu-ibu rumah tangga. Sebab ibu-ibu Indonesia tidak banyak
aktivitasnya. Padahal kalau sama dengan aktivitas suaminya, kemiskinan
bisa dikurangi. Karena kalau hanya suaminya yang punya penghasilan,
biarpun dia bekerja 24 jam, upahnya tetap kecil. Kalau suami-istri yang
bekerja, upahnya bisa lebih besar.
Ini akan punya dampak psikologis terhadap anaknya. Ayah dan ibunya
bekerja keras, berarti si anak harus rajin sekolah. Jadi ini bukan
sekedar masalah kesetaraan jender. Tetapi lebih dari itu, pengaruhnya
secara psikologis. Karena didapatkan dengan kerja keras, hasilnya harus
dihemat, dibelanjakan secara hati-hati dan ditabung. Kalau digunakan
secara sembrono, istrinya hanya tahu menerima, tidak berkeringat, akan
mudah untuk mengeluarkan uang.
Si ibu juga bisa mengajari anaknya, betapa susah memperoleh uang Rp
10.000, dan anaknya juga akan sadar dan tahu berhemat. Jadi tahu
bagaimana menghasilkan dan membelanjakan uang.
Sebenarnya ini proses edukasi yang luar biasa. Bagaimana pertumbuhan
anak dipengaruhi oleh suami istri yang bekerja, cerdas dan penuh
dedikasi untuk menghasilkan sesuatu. Pengaruhnya luar biasa. Kita
melihat ada aspek pendidikan, sosiologis dan psikologis pada keluarga.
Di situlah UU Keluarga menjadi lebih penting. Pendekatan pada keluarga
menjadi penting, kalau kita menginginkan NKRI yang lebih beradab. Bangsa
yang Pancasilais; berketuhanan, beradab, berprikemanusiaan, adil dan
peduli pada sesama.
Pemerintah sekarang mengompensasi kenaikan harga BBM dengan bantuan dana
tunai langsung. Bagaimana Anda melihat metode tersebut?
Ini satu kesalahan besar. Sebenarnya dana ini bisa dijadikan sebagai
dana untuk mendukung proses pemberdayaan. Jangan diberikan serentak
sekaligus. Katakanlah dikasih per kelompok dengan dukungan bank.
Kemudian cicilan untuk keluarga miskin dibayar oleh pemerintah.
Memang rumah tangga miskin (RTM) mesti bantuan tunai, tetapi tidak mesti
seluruhnya. Hanya yang benar-benar sangat miskin yang dibantu dengan
uang tunai. Sebagian besar harus dibantu dengan program pemberdayaan.
Tidak bisa disamaratakan. Harus dipilah-pilah dan melalui
tahapan-tahapan.
Yang paling parah mungkin diperlukan sedikitnya tiga tahun untuk
memulihkan sikap mental mereka. Kalau sudah parah dan tidak bisa
diapa-apakan lagi, mungkin ini menjadi tugas Departemen Sosial untuk
memberi santunan. Fakir miskin tidak bisa lagi diberdayakan. Tetapi
sebagian besar RTM harus dientas lewat program pemberdayaan.
Kalau dengan cara yang sekarang ini, apa akibat lain?
Orang miskin akan bertambah miskin. Calon penerima dana bantuan langsung
akan semakin berebut dan bertambah.
Tidak ada unsur edukasi di situ?
Tidak ada. Tapi mestinya ini sifatnya hanya untuk sementara, dan
dana-dana itu harus dikembalikan.
Bagaimana dari segi anggaran?
Tentu sangat memberatkan.
Artinya terjadi proses pemiskinan?
Ya, dalam arti kasar. Surat kabar yang kritis pada pemerintah harus
bilang begitu. Kalau proses pemberdayaan tidak boleh dihubungkan dengan
itu. Proses pemberdayaan harus didata terlebih dahulu. Ini harus menjadi
program besar-besaran. Tetapi tidak perlu dana sekian triliun untuk
subsidi. Jadi tidak usah dengan kompensasi.
Pemberdayaan harus berdiri sendiri, terlepas dari kerangka kenaikan
harga BBM. Ganti rugi, itu tidak cocok. Proses pemberdayaan setiap tahun
memerlukan dana Rp 80 triliun, itu tidak perlu, cukup 10 atau 20 triliun
saja. Dengan program pemberdayaan itu, bupati dan walikota sibuknya akan
bukan main. Harus dilakukan dengan baik, mengerahkan seluruh kekuatan
pembangunan. Program saya tidak sampai Rp 2 triliun, sibuknya sudah
setengah mati dan dampak positifnya sedemikian luas.
Sebagai orang yang berpengalaman, apakah Anda pernah diminta memberi
advokasi untuk penanganan hal-hal seperti itu?
Saya pernah diajak bicara, memberikan pendapat saya.
Tapi tidak didengar?
Bukan saya tidak didengarkan. Tapi saya tidak tahu, apakah yang
mendengarkan saya, didengar atau tidak. Sebab ketika saya bicara, dia
mendengar dengan sungguh-sungguh. Apakah yang mendengarkan saya didengar
oleh yang mengambil keputusan, wallahualam. ►e-ti/crs-sh-am
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|