|
|
 |
Garin Nugroho Megawati Opera Sabun II
Di salah satu universitas di Australia terdapat sebuah kartun Megawati
Soekarnoputri dalam sosok pose dan senyum lukisan Monalisa yang sangat
terkenal itu. Kartun Mega Monalisawati tersebut, mencerminkan bagaimana
senyum Megawati di tengah politik sedikit bicaranya, ditafsir seperti
layaknya senyum penuh misteri Monalisa. Senyum misteri Monalisa hingga
kini terus mendapat berbagai kajian dalam berbagai perspektif.
Kartun di Australia tersebut tidak saja menjadi analisa genial, namun
sebuah ruang tafsir yang luas, sekaligus sebuah analisa dari jendela lain
terhadap sosok perempuan yang menjadi Presiden Indonesia ini.
Dalam artikel di Kompas bertajuk Megawati Opera Sabun, saat Megawati
kalah berlomba melawan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam pemilihan
Presiden di MPR, penulis mencoba memprediksi Megawati dalam perspektif
kajian media Opera sabun. Sebuah kajian yang mulai populer dan diterapkan
dalam mengamati berbagai gejala sosial politik.
Penulis memprediksi, bahwa keseluruhan berita tentang Megawati periode itu
(bercitra ibu, jujur, teraniaya, tergusur, dan tidak ingin menyakiti orang
lain), sesungguhnya akan menjadi kekuatan besar Megawati. Seluruh berita
Megawati adalah ruang psikologi komunal masyarakat mencitrakan dunia Ibu
sebagai dunia pahlawan yang mengayomi. Sebuah psikologi komunal seperti
layaknya masyarakat menangkap kepahlawanan tokoh perempuan dalam Opera
Sabun, yang senantiasa bercitra baik, jujur, teraniaya dan tak mau
menyakiti lawan-lawannya.
Pemerintahan Megawati sekarang ini, seperti layaknya periode tahun kedua
dari seri panjang sebuah Opera Sabun. Si Tokoh perempuan mulai berhadapan
dunia musuh yang terpetakan dan semakin jelas. Berbeda dengan periode
pertama sebuah Opera Sabun.
Pada periode pertama, bangunan drama berada dalam tahap perkenalan
tokoh-tokoh. Pemirsa dibawa dalam plot yang membawa rasa ingin tahu dan
serba penuh teka-teki, membaca tokoh-tokoh utama, sebagai pihak lawan,
maupun pihak kawan.
Sementara, pada bangunan dramaturgi periode dua ini, penonton dibawa dalam
ketegangan siklus baru konflik-konflik di sekitarnya. Bangunan dramaturgi
akan semakin menarik pemirsa, alias tidak membosankan, sekiranya disertai
munculnya tokoh-tokoh utama, sebagai pihak lawan, maupun pihak kawan.
Sementara, pada bangunan dramaturgi periode dua ini, penonton dibawa dalam
ketegangan siklus baru konflik-konflik di sekitarnya. Bangunan dramaturgi
akan semakin menarik pemirsa, alias tidak membosankan, sekiranya disertai
munculnya tokoh-tokoh baru yang kuat, baik sebagai lawan maupun kawan.
Khususnya pada puncak drama politik periode dewasa ini, yakni pemilu dua
tahun lagi.
Yang harus mendapat catatan, ciri formula Opera Sabun, periode kedua dari
seri yang panjang, senantiasa memperlihatkan perkembangan bangunan baru
karakter tokoh utama. Tokoh utama tidak lagi pasif dan terus-menerus
tertindas, namun tokoh perempuan yang mulai bersikap terhadap dunia
konflik sekitarnya.
Inilah periode, yang menjadikan masyarakat menunggu dengan tegang,
kemampuan Megawati dalam menghadapi berbagai siklus konflik, serta manuver
baru yang mulai bermunculan. Sebutlah, munculnya nama yang sudah mulai
digelar di pasar untuk pemilu, yakni Amien Rais dan Yusril Ihza Mahendra,
serta berbagai gerak politiknya.
***
MENGKAJI karakter pada perspektif Opera Sabun, salah satu metode yang
paling praktis adalah melakukan perbandingan, lewat model-model karakter
yang hidup di sekitar masyarakat. Menganalisa jurus politik Megawati,
penulis teringat cara bekerja Cokot, seniman Bali yang termashur.
Cokot sangat dikenal kemampuannya dalam mengolah bahan akar tanaman
menjadi berbagai bentuk patung. Cara kerja Cokot tidaklah menghancurkan
atau merusak akar tanaman dan kemudian membentuk menurut desain yang sudah
ditetapkan. Kemaestroan Cokot adalah kepiawaiannya mengikuti karakter akar,
untuk membentuk menjadi sebuah patung sesuai dengan karakter akar tersebut.
Megawati agaknya mencoba membawa masyarakatnya dalam jurus kerja seniman
Cokot. Masyarakat seperti layaknya akar tanaman, yang harus dipahami betul
evolusi dan karakter pertumbuhannya untuk mencapai cita-cita politik dan
model masyarakat yang diinginkannya.
Oleh karena itu, cara kerja semacam ini melahirkan citra kerja yang
hati-hati, terlalu sabar, dan terasa instinktif, bahkan tidak tegas,
karena memerlukan waktu memahami pola gerak serat akar itu sendiri.
Cara ini, memang, mengundang kritik lawan politik Megawati, yakni jurus
politik Megawati bercitra kurang berkonsep, kurang tegas, kompromistis,
karena dituntut mengikuti karakter akar tersebut. Di sisi lain, meski
nilai kompromi menjadi kelemahan, sesungguhnya menjadi kekuatan politiknya,
karena mampu menjadi ruang bertemunya berbagai kepentingan.
Jurus "Cokot" Megawati bak jurus para maestro, sesungguhnya memerlukan
berbagai persyaratan.
Pertama, memahami secara mendalam evolusi dan karakter pertumbuhan akar
alias masyarakat. Jangan lupa, dibanding lawan-lawan politiknya, daya
hidup Megawati memimpin partainya dan perolehan suara partainya,
mencerminkan kemampuannya memahami wilayah akar rumput masyarakatnya.
Kedua, tantangan Cokot saat mengukir, justru pada saat setiap kali
menghadapi perubahan bentuk maupun tekstur akar, memerlukan pemikiran
panjang untuk bertindak, agar akar tersebut tidak patah. Maka, "jurus
politik Cokot" ini, menuntut keputusan-keputusan yang sangat terukur.
Kelemahan dari ciri ini, ia akan berhadapan dengan psikologi komunal
masyarakat, ataupun pelaku politik yang tidak sabar menunggu keputusan di
tengah situasi serba krisis dan membutuhkan banyak jawaban yang serba
cepat. Keuntungannya, meski terasa lambat, gaya politik semacam ini juga
terasa pararel dengan situasi dan kondisi masyarakat saat ini. Suatu
masyarakat dengan psikologi komunal yang sudah mulai jenuh dengan berbagai
teriakan revolusi dan emosi, yang belum melahirkan jawaban, bahkan
dipenuhi persoalan-persoalan.
Maka, jurus Cokot ini, memungkinkan psikologi kestabilan dan mampu membawa
perubahan meski sangat perlahan. Di sisi lain, begitu banyaknya kompromi
dan kehati-hatian di tengah eforia demokratisasi, mengundang kritik, bahwa
gaya kompromi menjadikan ide-ide berbangsa sering terasa mengalah oleh
berbagai kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Ketiga, jurus Cokot menjadikan dunia konsep, pengamatan dan dunia tindakan
senantiasa berdampingan. Oleh karena itu, konsep politik Megawati tidaklah
terdefinisikan dalam kata-kata, namun dalam tindakan bekerja. Hal ini bisa
dibaca, ucapan-ucapan Presiden Megawati, yang seringkali diulang-ulang: "Saya
ingin langsung kerja, saya sudah jengkel cuma upacara simbolis terus".
Atau simak juga, ekpresi kebahagiaan Megawati ketika melepas Tim Thomas
dan Uber Cup, yang dipenuhi atmosfer berlatih dan bekerja.
Jurus politik semacam ini memang memiliki kelemahan, yakni terasa bercitra
"praktis", "sederhana" dan tidak cukup "Intelektual". Namun, sesungguhnya,
jurus ini memerlukan imajinasi politik yang luar biasa. Suatu imajinasi
politik yang lahir lewat kesabaran, pengalaman Megawati sejak kecil, dan
daya tahan politik yang cukup panjang. Di dalamnya, terdapat konsep-konsep
dan daya tahan menjaga tujuan politik, yang sering tak terdiskripsikan
ketika belum disertai bukti lewat dunia kerja.
Haruslah dicatat, lawan-lawan politik Megawati, justru sering arogan
dengan kemampuan berkonsep dan intelektualnya, tanpa melalui proses
politik yang panjang. Mereka seringkali ingin begitu cepat membentuk
masyarakat sesuai dengan konsep politik yang diimpikan. Hal itu dilakukan
dengan manuver politik yang serba cepat, melompat dan cenderung
menggampangkan, dan kurang memahami evolusi sosial politik masyarakat.
Mereka seperti pematung yang memahat kayu tanpa memahami karakter kayunya,
bisa diduga, justru kayu itu akan hancur.
Keempat, jurus politik Cokot, sangatlah memerlukan alat memahat dan
kewaskitaan menyeleksi kondisi berbagai akar itu sendiri. Mencermati yang
rapuh dan busuk serta perlu dipotong, yang mengganggu, yang perlu
diperbaiki, dan yang memang harus dijaga. Oleh karena itu, masa depan
politik Megawati sangat tergantung kepiawaian dan ketegasan, serta
ketajaman Megawati untuk mampu mencermati pelaku-pelaku politik di
sekitarnya, tidak saja lawan politiknya, namun juga pendukungnya sendiri,
serta berbagai konfigurasi baru yang akan terus bermunculan menjelang
pemilu.
Grammar Opera Sabun menunjukkan, Tokoh Utama Opera Sabun justru sering
mengalami kejatuhan, bukan oleh lawan politiknya, tetapi oleh tokoh-tokoh
di lingkungannya sendiri, yang kehilangan kontrol dalam menghadapi
kekuasaan ekonomi dan politik yang serba penuh tawaran dan tekanan.
***
MEMBACA Megawati dari bangunan seni lakon Opera Sabun, sesungguhnya tak
akan mungkin dilepaskan dari dunia paling dalam, yakni dunia traumatik
yang dialami setiap individu manusia. Dunia yang mempengaruhi seluruh cara
bertindak, berpikir, dan menanggapi.
Haruslah dicatat, Megawati tidak mungkin lepas dari dunia trauma masa
kecilnya, bersama ayahnya, Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Yang
mengalami pasang surut yang penuh drama, dan tekanan politik yang luar
biasa di saat-saat terakhir ayahnya. Yang kemudian berlanjut pada dirinya
dan keluarganya.
Biasanya, dalam formula Opera Sabun, tokoh-tokoh yang dipenuhi trauma masa
kecil, senantiasa memiliki dua kemungkinan besar. Ia berwujud menjadi
tokoh yang merusak, dendam, dan menyimpang.
Atau justru terbalik, penuh kemampuan menahan diri, tidak mau melukai,
konsisten dalam mencapai tujuan, dan memiliki daya tahan menghadapi
tekanan. Tokoh-tokoh traumatik semacam ini, bisa sangat manusiawi, mudah
terharu oleh hal-hal kecil, sangat rileks, merakyat, tak perduli
upacara-upacara.
Di sisi lain, sering sangat kuat menahan diri dalam mengekspresikan diri,
meski menghadapi hal-hal yang besar, meski sesungguhnya dalam dirinya
dipenuhi berbagai gejolak. Hal ini melahirkan kesan dari luar karakter
kurang perduli dan terasa bercitra feodal, meski pada wajah lain,
melahirkan perilaku politik yang cukup sulit dipetakan ataupun diraba
lawan politiknya.
***
AGAKNYA, Megawati Opera Sabun II segera dimulai, ketika kekuatan politik
di sekitarnya mulai berubah, khususnya ketika pemilu terasa tak lama lagi,
dan berbagai manuver lawan politik telah mulai terbaca pergerakannya.
Sementara, tokoh-tokoh utama politik Indonesia, pada periode Megawati
Opera Sabun I, telah mengalami berbagai peristiwa yang melahirkan berbagai
pencitraan baru, sebutlah Gus Dur hingga Akbar Tandjung maupun citra
militer. Inilah babak baru Megawati di tengah bangunan baru dramaturgi
sosial politik Indonesia.
Selamat menyaksikan Megawati Opera Sabun II!
* Garin Nugroho,Sutradara, pengamat media.
(Tokoh Indonesia, Repro Kompas)
|
|
 |
| Megawati |
 |
Agaknya, Megawati Opera Sabun II segera dimulai, ketika kekuatan
politik di sekitarnya mulai berubah, khususnya ketika pemilu terasa tak
lama lagi, dan berbagai manuver lawan politik telah mulai terbaca
pergerakannya. Sementara, tokoh-tokoh utama politik Indonesia, pada
periode Megawati Opera Sabun I, telah mengalami berbagai peristiwa yang
melahirkan berbagai pencitraan baru, sebutlah Gus Dur hingga Akbar
Tandjung maupun citra militer. Inilah babak baru Megawati di tengah
bangunan baru dramaturgi sosial politik Indonesia.
Selamat menyaksikan Megawati Opera Sabun II!
|
|