SELAMAT DATANG ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
OPINI
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
R up date 210502
INDEX BERITA   

garis

:::::: Berita garis

:::::: Wawancara garis
:::::: Opini
garis
:::::: Editorial
garis
:::::: Resensi
garis
:::::: Leadership
garis
:::::: Selamat HUT
garis
:::::: Pernikahan
garis
:::::: In Memoriam
garis
:::::: Sebelumnya
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Garin Nugroho

Megawati Opera Sabun II

Di salah satu universitas di Australia terdapat sebuah kartun Megawati Soekarnoputri dalam sosok pose dan senyum lukisan Monalisa yang sangat terkenal itu. Kartun Mega Monalisawati tersebut, mencerminkan bagaimana senyum Megawati di tengah politik sedikit bicaranya, ditafsir seperti layaknya senyum penuh misteri Monalisa. Senyum misteri Monalisa hingga kini terus mendapat berbagai kajian dalam berbagai perspektif.
Kartun di Australia tersebut tidak saja menjadi analisa genial, namun sebuah ruang tafsir yang luas, sekaligus sebuah analisa dari jendela lain terhadap sosok perempuan yang menjadi Presiden Indonesia ini.

Dalam artikel di Kompas bertajuk Megawati Opera Sabun, saat Megawati kalah berlomba melawan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam pemilihan Presiden di MPR, penulis mencoba memprediksi Megawati dalam perspektif kajian media Opera sabun. Sebuah kajian yang mulai populer dan diterapkan dalam mengamati berbagai gejala sosial politik.
Penulis memprediksi, bahwa keseluruhan berita tentang Megawati periode itu (bercitra ibu, jujur, teraniaya, tergusur, dan tidak ingin menyakiti orang lain), sesungguhnya akan menjadi kekuatan besar Megawati. Seluruh berita Megawati adalah ruang psikologi komunal masyarakat mencitrakan dunia Ibu sebagai dunia pahlawan yang mengayomi. Sebuah psikologi komunal seperti layaknya masyarakat menangkap kepahlawanan tokoh perempuan dalam Opera Sabun, yang senantiasa bercitra baik, jujur, teraniaya dan tak mau menyakiti lawan-lawannya.
Pemerintahan Megawati sekarang ini, seperti layaknya periode tahun kedua dari seri panjang sebuah Opera Sabun. Si Tokoh perempuan mulai berhadapan dunia musuh yang terpetakan dan semakin jelas. Berbeda dengan periode pertama sebuah Opera Sabun.
Pada periode pertama, bangunan drama berada dalam tahap perkenalan tokoh-tokoh. Pemirsa dibawa dalam plot yang membawa rasa ingin tahu dan serba penuh teka-teki, membaca tokoh-tokoh utama, sebagai pihak lawan, maupun pihak kawan.
Sementara, pada bangunan dramaturgi periode dua ini, penonton dibawa dalam ketegangan siklus baru konflik-konflik di sekitarnya. Bangunan dramaturgi akan semakin menarik pemirsa, alias tidak membosankan, sekiranya disertai munculnya tokoh-tokoh utama, sebagai pihak lawan, maupun pihak kawan.
Sementara, pada bangunan dramaturgi periode dua ini, penonton dibawa dalam ketegangan siklus baru konflik-konflik di sekitarnya. Bangunan dramaturgi akan semakin menarik pemirsa, alias tidak membosankan, sekiranya disertai munculnya tokoh-tokoh baru yang kuat, baik sebagai lawan maupun kawan. Khususnya pada puncak drama politik periode dewasa ini, yakni pemilu dua tahun lagi.
Yang harus mendapat catatan, ciri formula Opera Sabun, periode kedua dari seri yang panjang, senantiasa memperlihatkan perkembangan bangunan baru karakter tokoh utama. Tokoh utama tidak lagi pasif dan terus-menerus tertindas, namun tokoh perempuan yang mulai bersikap terhadap dunia konflik sekitarnya.
Inilah periode, yang menjadikan masyarakat menunggu dengan tegang, kemampuan Megawati dalam menghadapi berbagai siklus konflik, serta manuver baru yang mulai bermunculan. Sebutlah, munculnya nama yang sudah mulai digelar di pasar untuk pemilu, yakni Amien Rais dan Yusril Ihza Mahendra, serta berbagai gerak politiknya.
***
MENGKAJI karakter pada perspektif Opera Sabun, salah satu metode yang paling praktis adalah melakukan perbandingan, lewat model-model karakter yang hidup di sekitar masyarakat. Menganalisa jurus politik Megawati, penulis teringat cara bekerja Cokot, seniman Bali yang termashur.
Cokot sangat dikenal kemampuannya dalam mengolah bahan akar tanaman menjadi berbagai bentuk patung. Cara kerja Cokot tidaklah menghancurkan atau merusak akar tanaman dan kemudian membentuk menurut desain yang sudah ditetapkan. Kemaestroan Cokot adalah kepiawaiannya mengikuti karakter akar, untuk membentuk menjadi sebuah patung sesuai dengan karakter akar tersebut.
Megawati agaknya mencoba membawa masyarakatnya dalam jurus kerja seniman Cokot. Masyarakat seperti layaknya akar tanaman, yang harus dipahami betul evolusi dan karakter pertumbuhannya untuk mencapai cita-cita politik dan model masyarakat yang diinginkannya.
Oleh karena itu, cara kerja semacam ini melahirkan citra kerja yang hati-hati, terlalu sabar, dan terasa instinktif, bahkan tidak tegas, karena memerlukan waktu memahami pola gerak serat akar itu sendiri.
Cara ini, memang, mengundang kritik lawan politik Megawati, yakni jurus politik Megawati bercitra kurang berkonsep, kurang tegas, kompromistis, karena dituntut mengikuti karakter akar tersebut. Di sisi lain, meski nilai kompromi menjadi kelemahan, sesungguhnya menjadi kekuatan politiknya, karena mampu menjadi ruang bertemunya berbagai kepentingan.
Jurus "Cokot" Megawati bak jurus para maestro, sesungguhnya memerlukan berbagai persyaratan.
Pertama, memahami secara mendalam evolusi dan karakter pertumbuhan akar alias masyarakat. Jangan lupa, dibanding lawan-lawan politiknya, daya hidup Megawati memimpin partainya dan perolehan suara partainya, mencerminkan kemampuannya memahami wilayah akar rumput masyarakatnya.
Kedua, tantangan Cokot saat mengukir, justru pada saat setiap kali menghadapi perubahan bentuk maupun tekstur akar, memerlukan pemikiran panjang untuk bertindak, agar akar tersebut tidak patah. Maka, "jurus politik Cokot" ini, menuntut keputusan-keputusan yang sangat terukur.
Kelemahan dari ciri ini, ia akan berhadapan dengan psikologi komunal masyarakat, ataupun pelaku politik yang tidak sabar menunggu keputusan di tengah situasi serba krisis dan membutuhkan banyak jawaban yang serba cepat. Keuntungannya, meski terasa lambat, gaya politik semacam ini juga terasa pararel dengan situasi dan kondisi masyarakat saat ini. Suatu masyarakat dengan psikologi komunal yang sudah mulai jenuh dengan berbagai teriakan revolusi dan emosi, yang belum melahirkan jawaban, bahkan dipenuhi persoalan-persoalan.
Maka, jurus Cokot ini, memungkinkan psikologi kestabilan dan mampu membawa perubahan meski sangat perlahan. Di sisi lain, begitu banyaknya kompromi dan kehati-hatian di tengah eforia demokratisasi, mengundang kritik, bahwa gaya kompromi menjadikan ide-ide berbangsa sering terasa mengalah oleh berbagai kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Ketiga, jurus Cokot menjadikan dunia konsep, pengamatan dan dunia tindakan senantiasa berdampingan. Oleh karena itu, konsep politik Megawati tidaklah terdefinisikan dalam kata-kata, namun dalam tindakan bekerja. Hal ini bisa dibaca, ucapan-ucapan Presiden Megawati, yang seringkali diulang-ulang: "Saya ingin langsung kerja, saya sudah jengkel cuma upacara simbolis terus". Atau simak juga, ekpresi kebahagiaan Megawati ketika melepas Tim Thomas dan Uber Cup, yang dipenuhi atmosfer berlatih dan bekerja.
Jurus politik semacam ini memang memiliki kelemahan, yakni terasa bercitra "praktis", "sederhana" dan tidak cukup "Intelektual". Namun, sesungguhnya, jurus ini memerlukan imajinasi politik yang luar biasa. Suatu imajinasi politik yang lahir lewat kesabaran, pengalaman Megawati sejak kecil, dan daya tahan politik yang cukup panjang. Di dalamnya, terdapat konsep-konsep dan daya tahan menjaga tujuan politik, yang sering tak terdiskripsikan ketika belum disertai bukti lewat dunia kerja.
Haruslah dicatat, lawan-lawan politik Megawati, justru sering arogan dengan kemampuan berkonsep dan intelektualnya, tanpa melalui proses politik yang panjang. Mereka seringkali ingin begitu cepat membentuk masyarakat sesuai dengan konsep politik yang diimpikan. Hal itu dilakukan dengan manuver politik yang serba cepat, melompat dan cenderung menggampangkan, dan kurang memahami evolusi sosial politik masyarakat. Mereka seperti pematung yang memahat kayu tanpa memahami karakter kayunya, bisa diduga, justru kayu itu akan hancur.
Keempat, jurus politik Cokot, sangatlah memerlukan alat memahat dan kewaskitaan menyeleksi kondisi berbagai akar itu sendiri. Mencermati yang rapuh dan busuk serta perlu dipotong, yang mengganggu, yang perlu diperbaiki, dan yang memang harus dijaga. Oleh karena itu, masa depan politik Megawati sangat tergantung kepiawaian dan ketegasan, serta ketajaman Megawati untuk mampu mencermati pelaku-pelaku politik di sekitarnya, tidak saja lawan politiknya, namun juga pendukungnya sendiri, serta berbagai konfigurasi baru yang akan terus bermunculan menjelang pemilu.
Grammar Opera Sabun menunjukkan, Tokoh Utama Opera Sabun justru sering mengalami kejatuhan, bukan oleh lawan politiknya, tetapi oleh tokoh-tokoh di lingkungannya sendiri, yang kehilangan kontrol dalam menghadapi kekuasaan ekonomi dan politik yang serba penuh tawaran dan tekanan.
***
MEMBACA Megawati dari bangunan seni lakon Opera Sabun, sesungguhnya tak akan mungkin dilepaskan dari dunia paling dalam, yakni dunia traumatik yang dialami setiap individu manusia. Dunia yang mempengaruhi seluruh cara bertindak, berpikir, dan menanggapi.
Haruslah dicatat, Megawati tidak mungkin lepas dari dunia trauma masa kecilnya, bersama ayahnya, Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Yang mengalami pasang surut yang penuh drama, dan tekanan politik yang luar biasa di saat-saat terakhir ayahnya. Yang kemudian berlanjut pada dirinya dan keluarganya.
Biasanya, dalam formula Opera Sabun, tokoh-tokoh yang dipenuhi trauma masa kecil, senantiasa memiliki dua kemungkinan besar. Ia berwujud menjadi tokoh yang merusak, dendam, dan menyimpang.
Atau justru terbalik, penuh kemampuan menahan diri, tidak mau melukai, konsisten dalam mencapai tujuan, dan memiliki daya tahan menghadapi tekanan. Tokoh-tokoh traumatik semacam ini, bisa sangat manusiawi, mudah terharu oleh hal-hal kecil, sangat rileks, merakyat, tak perduli upacara-upacara.
Di sisi lain, sering sangat kuat menahan diri dalam mengekspresikan diri, meski menghadapi hal-hal yang besar, meski sesungguhnya dalam dirinya dipenuhi berbagai gejolak. Hal ini melahirkan kesan dari luar karakter kurang perduli dan terasa bercitra feodal, meski pada wajah lain, melahirkan perilaku politik yang cukup sulit dipetakan ataupun diraba lawan politiknya.
***
AGAKNYA, Megawati Opera Sabun II segera dimulai, ketika kekuatan politik di sekitarnya mulai berubah, khususnya ketika pemilu terasa tak lama lagi, dan berbagai manuver lawan politik telah mulai terbaca pergerakannya. Sementara, tokoh-tokoh utama politik Indonesia, pada periode Megawati Opera Sabun I, telah mengalami berbagai peristiwa yang melahirkan berbagai pencitraan baru, sebutlah Gus Dur hingga Akbar Tandjung maupun citra militer. Inilah babak baru Megawati di tengah bangunan baru dramaturgi sosial politik Indonesia.
Selamat menyaksikan Megawati Opera Sabun II!
* Garin Nugroho,Sutradara, pengamat media.

(Tokoh Indonesia, Repro Kompas)
 

  Megawati

Agaknya, Megawati Opera Sabun II segera dimulai, ketika kekuatan politik di sekitarnya mulai berubah, khususnya ketika pemilu terasa tak lama lagi, dan berbagai manuver lawan politik telah mulai terbaca pergerakannya. Sementara, tokoh-tokoh utama politik Indonesia, pada periode Megawati Opera Sabun I, telah mengalami berbagai peristiwa yang melahirkan berbagai pencitraan baru, sebutlah Gus Dur hingga Akbar Tandjung maupun citra militer. Inilah babak baru Megawati di tengah bangunan baru dramaturgi sosial politik Indonesia.
Selamat menyaksikan Megawati Opera Sabun II!

 

  

 

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero