| |
C © updated 19042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/mlp |
|
| |
Nama:
Mufidah Jusuf Kalla
Lahir:
Sibolga, 12 Februari 1943
Agama:
Islam
Pekerjaan:
Ibu Rumah Tangga
Suami:
Muhammad Jusuf Kalla
Anak:
1. Muchlisah Jusuf
2. Muswirah Jusuf
3. Imelda Jusuf
4. Solichin Jusuf
5. Chaerani Jusuf
Cucu:
Tujuh orang
Orangtua:
Ayah H Buya Mi'ad dan Ibu Sitti Baheram
Saudara Kandung:
Sebelas orang
Pendidikan:
SMA Negeri III Makassar
Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar
Pengalaman Kerja:
Teller Bank BNI 1946 Cabang Sarinah, Makassar
Wakil Pimpinan Bank BNI 1946 Cabang Sarinah, Makassar
Kepala Bagian Keuangan NV Hadji Kalla Trading Company
Hobi:
Menari
Alamat Rumah:
Jalan Brawijaya Raya No. 6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Sumber:
Berbagai sumber, antara lain Suara Pembaruan dan Indo Pos
|
|
| |
|
|
|
|
| MUFIDAH JK HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI
Mufidah Jusuf Kalla
Penopang Karir Suami
Wanita bersuara lembut yang berusaha menjaga sikap untuk selalu tampil
setenang mungkin, Mufidah Miad Saad, ini seorang ibu yang setia menopang
karir suami, Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keberhasilan JK dalam dunia
usaha dan dunia politik tak terlepas dari dukungan wanita Minangkabau
kelahiran Sibolga 12 Februari 1943, ini.
Bak kata pepatah asam di gunung ikan di laut bertemu dalam kuali,
itulah yang terjadi pada pasangan Muhammad Jusuf Kalla dan Mufidah.
Sebagai khasnya orang Minang yang berjiwa perantau, begitulah jua
keluarga Mufidah (ayah H Buya Mi'ad dan ibu Sitti Baheram serta sebelas
orang anak saudara sekandung. Dari Sumatera Barat merantau ke Sibolga,
umatera Utara hingga ke Sulawesi Selatan.
Di kota Angin Mamiri Makassar, Mufiodah akhirnya bertemu jodoh Jusuf
Kalla. Mufidah yang biasa cukup dipanggil dengan Ida saja, adalah gadis
muda belia yang untuk pertamakalinya bertemu pandang dengan Jusuf Kalla
saat menginjak bangku SMA Negeri III Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai
siswi baru.
Di masa-masa sekolah inilah awal mula persemaian kisah cinta Mufidah
dengan seorang anak muda Muhammad Jusuf Kalla (MJK), pria suku Bugis
kelahiran Watampone 15 Mei 1942, putra pengusaha tradisional Bugis Haji
Kalla dan Hajjah Athirah pendiri dan pemilik NV Hadji Kalla Trading
Company, bersemi.
Jusuf Kalla dan Mufidah mulai saling menaruh hati pada tahun 1962 saat
Jusuf Kalla duduk di bangku kelas dua dan Ida adalah siswi baru kelas
satu SMA Negeri III Makassar. Mufidahlah yang menyebutkan kalau Jusuf
Kalla sudah menunjukkan ketertarikan kepadanya sewaktu SMA. Namun Ida
menanggapi ketertarikan Kalla dengan bersikap tenang dan biasa-biasa
saja, sepertinya tanpa ada gejolak apapun.
Walau berakhir happy ending kisah cinta dua anak bangsa Jusuf
Kalla-Mufidah memang sepertinya mirip dengan kisah Siti Nurbaya, sebuah
cerita klasik dari Minangkabau. Ketika Jusuf Kalla sudah sedang berada
di puncak hasrat asmara bahkan hendak melamar, Ida kepada Kalla mengaku
terus terang kalau dirinya sudah dijodohkan oleh kedua orangtua kepada
pria lain.
Pengakuan langsung itu menjadi konfirmasi final atas kabar perjodohan
Mufidah yang sebelumnya telah terembus ke telinga Jusuf Kalla. Kabar
atau “mimpi buruk” yang muncul justru di saat Jusuf Kalla hendak melamar
Ida. Pria yang dijodohkan ke Mufidah disebut-sebut pula ganteng dan
sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
Namun, nyali Jusuf Kalla tak surut. Dan, akhirnya mereka menikah.
Buah kasih mereka telah melahirkan lima orang anak, yakni Muchlisah
Jusuf, Muswirah Jusuf, Imelda Jusuf, Solichin Jusuf, dan Chaerani Jusuf,
serta tujuh orang cucu.
Penari Serampang 12
Ketenangan dan selalu bersikap biasa, sejak gadis belia hingga sudah
menjadi nenek tujuh orang cucu adalah ciri khas pembawaan Mufidah,
wanita yang di usia senja 61 tahun masih saja mengguratkan tanda-tanda
kecantikan dan kesegaran. Sebagai misal, walau nyonya rumah di sebuah
keluarga kaya raya, yang berdasar laporan KPKN Jusuf Kalla memiliki
kekayaan Rp 134,2 miliar, penampilan Mufidah tampak biasa-biasa saja.
Sehari-hari di rumah, misalnya, ia cukup mengenakan setelan busana
muslimah yang sangat bersahaja.
“Ya biasa-biasa saja. Sejak bapak mundur dari kabinet, saya memilih
tinggal di rumah bersama satu cucu atau ikut bapak keluar daerah jika
menginap. Soal kegiatan saya, sebut saja saya menjadi ibu rumah tangga,”
kata Mufidah, tersenyum kepada Indo Pos bercerita perihal kegiatan
hariannya berikut status barunya sebagai Ibu Rumah Tangga. Ibu Rumah
Tangga biasa sederhana yang bukan lagi dikenal Nyonya Menteri namun
malah naik menjadi Nyonya Wakil Presiden karena kebersahajaannya.
Tutur kata Mufidah terkesan ramah dan akrab. Sama seperti sang suami
Jusuf Kalla, yang konglomerat dari Indonesia Timur yang juga sangat
bersahaja dan sederhana sekali sebab jarang sekali mengenakan pakaian
jas lengkap, kecuali untuk acara resmi yang sangat penting itupun
terkadang paling-paling cukup mengenakan baju batik saja. Keseharian
Jusuf Kalla lebih suka mengenakan baju lengan pendek tanpa dasi, atau
jika ingin lebih sederhana cukup kenakan baju koko berlengan pendek.
Jusuf Kalla menyemai bibit kasih sayangnya kepada Mufidah dengan
sesekali datang bertandang ke rumah Ida. Ia datang bersama kawan-kawan
sesama mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin (Unhas)
Makassar. Tujuannya “bukan” untuk bertemu Ida melainkan asyik bermain
halma dan mengobrol dengan sang “Camer” alias calon mertua.
Mufidah suatu ketika harus menempuh ujian akhir SMA di Medan sebab
bersamaan waktunya dengan penyelengaraan sebuah kejuaraan tari di Medan.
Ida yang pandai menarikan tarian Melayu Serampang Duabelas, demikian
pula tarian Minang dan Aceh, dipercaya mewakili Propinsi Sulawesi
Selatan mengikuti kejuaraan tari di Medan. Bukti bahwa Mufidah seorang
penari handal tercermin pada putri bungsunya, Chaerani, yang mewarisi
bakat penari. Di Medan Mufidah berhasil tampil sebagai juara tiga.
Cinta jarak jauh Makassar-Medan diisi Jusuf Kalla dengan kerap
menanyakan dan mencari tahu kabar tentang Ida, sambil sesering mungkin
berkirim kartu pos.
Kembali ke Makassar Mufidah berkesempatan bekerja di bank BNI 1946 atas
permintaan ibu dan koneksi ayahnya dengan direktur utama bank yang kini
bernama Bank BNI itu. Dengan bekerja Ida menyimpan hasrat lama kuliah di
Universitas Hasanudin, tempat dimana Jusuf Kalla kuliah dan aktif
sebagai aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Walau
gagal masuk Unhas sekampus dengan Kalla Ida tak ingin melunturkan niat
besarnya menempuh pendidikan tinggi. Ia lalu masuk ke Fakultas Ekonomi
Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Selepas bekerja sebagai
teller bank Ida rajin kuliah sore.
Mengetahui Mufidah bekerja dan sambuil kuliah ada dua hal yang segera
dilakukan Jusuf Kalla. Yakni, menabung di BNI 1946 dan melamar menjadi
asisten dosen di UMI Makassar. Tujuannya tak lain ingin selalu bertemu
pujaan kekasih hati. Seringkali bahkan terjadi setiap hari, dari
bangkunya bekerja sebagai teller bank, “Dari jauh saya sudah lihat Bapak
datang. Ia langsung ke tempat saya dan menabung. Tiap hari menabung,”
kenang Ida, penuh tawa mengenang peristiwa puluhan tahun silam itu saat
berbicara kepada Suara Pembaruan. Dan, pada peristiwa berbeda sebagai
mahasiswi UMI Makassar yang diajar oleh Jusuf Kalla, pada suatu ketika
Ida lupa membawa pulpen dan sang asisten dosen langsung saja menawarinya
sebuah pulpen berwarna keemasan. Ida menerima dengan perasaan senang
namun malu-malu.
Diuji berkali-kali
Baik teman-teman Jusuf Kalla maupun teman-teman Mufidah sama-sama sudah
mengetahui bahwa ada sesuatu antara kedua sejoli itu. Namun terhadap
Jusuf Kalla Ida selalu bersikap biasa-biasa. Ida lalu dijuluki
“jinak-jinak merpati”. Isi hati Ida pernah diuji berkali-kali oleh
teman-teman Jusuf Kalla.
Misalnya, pada suatu ketika Ida diminta untuk memilih kartu bertuliskan
“ARA”, kartu nama kelompok belajar Jusuf Kalla. Tak mengerti apa
maksudnya yang sesungguhnya, Ida mau saja mengambil kartu itu. Ida lalu
diberitahu bahwa kartu yang berhasil diambilnya yang bertuliskan “ARA”,
itu berarti tanda jadi hubungan mereka berdua. Jusuf Kalla dan empat
orang sahabatnya bersorak kegirangan lalu merayakannya berkeliling kota
dengan dokar.
Walau sudah diuji demikian dan terbukti berhasil mengetahu isi hati
Mufidah, sikap Ida masih saja sama tak berubah sedikitpun. Demikian pula
dalam keseharian tak pernah diisi dengan berpacaran, misalnya. Hingga
tiba pada ujian selanjutnya, Jusuf Kalla memberanikan diri sering
memperlihatkan diri berboncengan dengan seorang teman wanita sekampus
Unhas yang memang ada menaruh hati pada Kalla. Ida kemudian mengetahui
kejadian itu dari tetangga.
Tak pernah terjadi sebelumnya Mufidah segera saja menelepon Jusuf Kalla
untuk meminta datang ke rumah. “Saya bilang ke Bapak, saya berterima
kasih ke Bapak. Selama ini, saya berat mengatakannya, maklum saya ini
orang Minang, dan ayah-ibu saya berat melepas saya untuk orang Bugis.
Jadikan sajalah yang dibonceng di kampus itu,” kenang Ida, mengawali
hendak berkata pisah pada Jusuf Kalla.
Mufidah lalu menyebutkan merasa bersyukur Jusuf Kalla bisa menemukan
pengantinnya, meminta agar hubungan mereka tetap terjaga seperti
saudara, pintu rumah Ida selalu terbuka untuk Jusuf Kalla, dan jangan
sampai Jusuf Kalla melupakan Ida. Akhirnya tibalah waktunya Ida
mengulurkan tangan bersalaman untuk yang terakhir kali.
Tentu saja Jusuf Kalla menolak bersalaman dan menggagas bahwa Ida
telah salah paham. “Saya tidak suka sama orang itu, dan saya betul-betul
sudah salah. Saya cuma ingin memanas-manasi Ida,” kata Ida, menirukan
ucapan Kalla. Ketika itu Ida merasakan cemburu yang sesungguhnya namun
tak sedikitpun mau memperlihatkannya. Ia tetap saja tenang seperti
biasa. Jusuf Kalla berlalu dengan lunglai disaksikan oleh seluruh
saudara Ida. Mereka pun menaruh rasa iba terhadap pria yang sesungguhnya
sudah mereka kenal baik dan akrab.
Teman-teman Jusuf Kalla ikut menyaksikan kesedihan di wajah sohib
dekatnya itu. Mereka lalu menghabiskan malam dengan duduk-duduk di tepi
Pantai Losari tanpa perlu bicara sebab semua telah kehilangan selera
humor. Kesedihan Jusuf Kalla semakin lengkap saat pulang ke rumah di
subuh hari ditemuinya seorang adiknya sedang memutarkan gramofon yang
mendendangkan lagu “Patah Hati” dari Rachmat Kartolo.
Dijodohkan
Jusuf Kalla sesungguhnya tidaklah sungguh-sungguh patah hati. Ia menemui
Paman Mufidah bertanya kemungkinan melamar Ida. Paman itu malah
menyarankan agar Kalla langsung melamar ke orangtua Ida. Namun justru
pada saat itulah Jusuf Kalla merasakan pukulan berat kedatangan “mimpi
buruk” yang sangat menakutkan. Jusuf Kalla mengetahui kalau Ida ternyata
sudah dijodohkan dengan seorang pria lain asal Minang, yang sedang
menempuh pendidikan di Amerika. Kalla panik dan segera ingin mendengar
kesungguhan kabar langsung dari mulut Ida.
Jusuf Kalla menemui Mufidah yang sudah dipromosikan menjadi Wakil
Pimpinan BNI 1946 Cabang Sarinah, Makassar. “Saya memang dijodohkan dan
orangnya gagah sekali. Ia sekarang bersekolah di Amerika,” kata Ida
terus terang tetap dengan nada tenang dan biasa-biasa saja.
“Jadi, kamu terima tidak? Ia gagah dan saya tidak?”
“Saya tidak terima perjodohan itu.”
“Lalu, bagaimana saya ini? Kamu terima saya ya?,” Jusuf Kalla mendesak.
“Kita lihat sajalah nanti,” jawab Ida pelan.
Beberapa hari kemudian Jusuf Kalla memberanikan diri segera melamar
Mufidah. Lamaran Kalla tak begitu saja ditolak apalagi diterima oleh
Buya Mi'ad dan Sitti Baheram, orangtua Ida, sebab mereka telah
menyiapkan jodoh untuk putri tunggalnya. Mengingat Buya Mi'ad dan Sitti
Baheram sudah lama merantau dan memilki pikiran yang terbuka dan modern
mereka sepakat menyerahkan persoalan sepenuhnya kepada Ida. Namun
sebagaimana tipikal wanita Minang kebanyakan yang sangat menghormati
orangtua, Ida yang putri tunggal dari sebelas bersaudara balik
menyerahkan pengambilan keputusan kepada Emak dan Ayahnya. Dengan hanya
sedikit beretorika, kalau seandainya lamaran Kalla diterima ya
alhamdulillah, dan seandainya tidak juga tidak apa-apa.
“Saya bilang, terserah Emak dan Ayah. Kalau seandainya diterima,
alhamdulillah. Kalau seandainya tidak, ya tidak apa-apa juga. Orangtua
saya berpikir, 'oh, Ida mau'. Dan lamaran itu pun diterima,” kata
Mufidah.
Sekretaris Pribadi
Retorika itulah yang berhasil ditangkap kedua orangtua Ida, ‘oh, Ida
mau’, sehingga lamaran Kalla diterima. Keduanya bertunangan tahun 1966
lalu menikah setahun kemudian menunggu hingga tuntas masa kuliah. Dua
minggu menjalani masa bulan madu Mufidah yang semestinya harus sudah
bekerja sebagai Wakil Pimpinan Bank BNI 1946, urung pergi ke kantor
sebab Kalla yang seharusnya mengantar tak mau beranjak pergi.
Kalla ingin Ida berada di rumah pada setiap kali Kalla pulang kerja. Ida
pun berhenti bekerja. Jusuf Kalla yang kala itu sudah terkemuka seorang
seorang politisi muda Golkar, mantan aktivis KAMMI, anggota DPRD
Sulawesi Selatan, pendiri Sekber Golkar Sulawesi Selatan.
Walau karir politik Jusuf Kalla sedang menanjak namun untuk urusan
bisnis keluarga suaminya itu justru diultimatum oleh ayah mertuanya
untuk memutuskan pilihan, apakah mau meneruskan usaha NV Hadji Kalla
Trading Company, atau tidak. Saat itu Mufidah sedang mengandung anak
kedua. NV Hadji Kalla sejak tahun 1965 mulai mengalami kesulitan setelah
Presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan sanering, berupa pemangkasan
nilai mata uang rupiah seribu kali lebih rendah, misal dari Rp 1.000
menjadi Rp 1.
Jusuf Kalla memilih meneruskan usaha keluarga NV Hadji Kalla. Di tangan
Jusuf Kalla usaha NV Hadji Kalla berkembang dari sebelumnya bergerak di
bidang hasil bumi menanjak ke usaha distributor mobil. Mufidah tergolong
berperan besar di awal-awal kebangkitan NV Hadji Kalla ini. Ida yang
ketika kuliah menekuni bidang akuntan, menjadikan ilmunya itu sebagai
modal di bidang keuangan. Ida berperan sebagai sekretaris pribadi Jusuf
Kalla merangkap mengelola keuangan perusahaan. Tahun 1969 perusahaan
keluarga NV Hadji Kalla terbangkitkan di bidang transportasi dengan
modal awal sepuluh unit kendaraan. “Saat itu, saya masih bekerja sebagai
juru keuangan perusahaan," ujar Ida.
Penopang suami
Kini NV Hadji Kalla sudah lebih dikenal sebagai sebuah konglomerasi
usaha dari Kawasan Timur Indonesia bernama Kalla Group, merambah beragam
bidang usaha seperti jasa transportasi, telekomunikasi, otomotif,
properti, kontraktor bangunan, perkapalan, jembatan, tambak udang,
perikanan, kelapa sawit, dan lain-lain. Ketika Jusuf Kalla diangkat
menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era Gus Dur satu per
satu pengelolaan unit usaha diwariskan kepada anak-anak. Mufidah
fokuskan diri menopang karir politik sang suami dengan menjadi Ibu Rumah
Tangga saja. Jusuf Kalla yang mundur dari Kabinet Megawati memilih
berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Wakil Presiden.
Pasangan inipun terpilih menjadi orang nomor satu dan nomor dua di bumi
Republik Indonesia.
Sukses pasangan SBY-JK adalah juga sukses topangan Kristiani Herrawati
Yudhoyono dan Mufidah Jusuf Kalla. Seringkali Ida bersama Jusuf Kalla
semasa sebagai calon wakil presiden berkunjung ke berbagai kota di tanah
air. Jika perjalanan satu hari saja pergi dan pulang biasanya Ida tak
perlu diikutkan dalam rombongan agar tidak merasa capek. Namun jika
kunjungan lebih dari satu hari Ida pasti diikutkan. “Bapak bilang, nanti
saya capek ikut dia. Sebab, kalau tidak menginap, pergi jam delapan
pagi, pulang jam delapan malam. Padahal, secapek apa pun saya selalu
siap mendampingi, kata Ida.
Frekuensi kunjungan ke daerah mencapai puncaknya saat menjelang dan pada
saat kampanye Pemilu Presiden 2004. Topangan Mufidah bukan cuma itu.
Rumah mereka yang terletak di Jalan Brawijaya Raya Nomor Enam, Jakarta
Selatan, kerapkali kedatangan tamu perseorangan atau rombongan terdiri
kolega atau tim sukses Jusuf Kalla. Ida selalu menyiapkan segalanya
untuk menjamu tamu-tamu itu. Ida sudah bertekad untuk mendampingi Jusuf
Kalla sebagai cawapres di rumah ataupun di luar rumah.
Mufidah merasa bangga setiap beban berat suaminya, apakah itu urusan
bisnis dan politik, orang rumah tak perlu kena getahnya. Ida sudah paham
tabiat Jusuf Kalla yang tak pernah mau membawa-bawa urusan kantor dan
luar rumah ke rumah seberat apapun tanggungjawab suaminya di urusan itu.
Segala urusan luar rumah harus selalu diselesaikan di luar rumah. Tak
sekalipun boleh mampir ke rumah. Rumah diperuntukkan sepenuhnya untuk
keluarga. Sikap hidup yang menjadi dasar dan legitimasi untuk menanamkan
prinsip anti KKN terhadap seluruh anggota keluarga.
“Bahkan, bicara soal pekerjaannya pun di rumah sangat jarang. Sebab,
kalau ditanya, dia selalu bilang besok saja. Saya bingung,” kata Ida,
yang di rumah tinggal bersama anak keduanya Muswira. Anak pertama
mereka, Muchlisa alias Lisa berdomisili di Balikpapan, Kalimantan Timur
yang melanjutkan manajerial lembaga pendidikan Athirah yang dulu
dikelola Mufidah. Sementara, anak ketiga dan keempat Imelda dan Solichin
berdomisili di Makassar. Si bungsu Chaerani pewaris bakat menari
Mufidah, usai menyelesaikan studi di Amerika Serikat kembali berada di
Tanah Air.
Sikap hidup sederhana, bersahaja, berusaha untuk selalu tenang, bersuara
lembut, tak menampakkan diri sebagai sosok keluarga pengusaha yang kaya
raya, agaknya sudah menjadi ciri khas Mufidah yang tak dibuat-buat.
Mengerti benar suaminya akan menjadi orang kedua di Bumi Nusantara, Ida
justru berharap agar suaminya bisa memenuhi semua janji-janji politik
yang pernah dilontarkan suami dan pasangannya Susilo Bambang Yudhoyono.
Ida tentu ingat apa saja yang pernah dijanjikan orang kesatu dan kedua
Indonesia itu. Selain berharap janji itu jangan sampai melesat, Ida
bahkan berdoa cita-cita suaminya menyejahterakan rakyat, mewujudkan
keadilan dan keamanan bagi negeri, bisa terpenuhi.
Jika pun tak terpenuhi Mufidah telah memutuskan akan menjadi orang
pertama yang mengingatkan dan menagih kepada Kalla. Ida memang percaya
penuh atas kegigihan dan keikhlasan suaminya dalam bekerja. “Saya yakin,
bapak tidak mencari kedudukan. Kalau hanya kedudukan, buat apa? Sejak
awal, niat bapak memang untuk ibadah,” kata Ida pasti.
Mufidah juga mengerti area bermain suaminya adalah area politik yang
penuh resiko. Sebagai misal, walau sudah menjadi kader Golkar selama 39
tahun, terlama dibanding kader-kader Golkar lainnya namun harus
menjalani proses penonaktifan sebagai anggota Dewan Penasehat DPP Partai
Golkar, Ida merasakan sangat penting kehadirannya selalu di sisi Jusuf
Kalla. Kalau ada fitnah dari pihak lain terhadap Kalla, misalnya, Ida
bisa segera menenangkan sekaligus mengingatkan untuk bersabar.
Ida menopang suami juga dengan iman. Seperti, mendoakan perjalanan karir
politik Jusuf Kalla dengan ikut majelis pengajian, wirid, serta zikir
secara berjamaah di kediaman mereka. Ida selalu berzikir didampingi
empat dari lima anaknya Muchlisah, Muswirah, Solichin, dan Chaerani.
Demikian pula dua cucu dari anak pertamanya, Ahmad Fikri dan Masyitah
selalu ikut dalam kebersamaan keluarga Jusuf Kalla di hari-hari terakhir
menjelang hari pencoblosan 20 September 2004. Jusuf Kalla dikenal sangat
akrab dan berbahagia sekali jika sedang bersama cucu-cucu.
Malam menjelang hari pencoblosan 20 September 2004 Mufidah mengaku tak
pernah tertidur. Bersama seorang ustad ia berzikir di sebuah majelis
zikir. Di hari pencoblosan Ida yang berlatar Muhammadiyah memutuskan
berpuasa padahal tak ikut makan sahur. Niat berpuasa terjadi malam
harinya. Jika Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pasangan suaminya
pemenang Pemilu Presiden, Ida penolong suami yang sepadan ini berniat
membayar nazar yang pernah diucapkan sebelumnya yakni berpuasa tiga
hari. ►ti-haposan
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|