| |
C © updated
07112002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama :
Ir. Rauf Purnama
Lahir :
Garut, 21 Maret 1943
Agama :
Islam
Jabatan :
Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer
Pendidikan Formal:
SR Garut, 1956
SMP Garut, 1959
SMA IPA, Garut 1962
Sarjana Teknik Kimia ITB – Bandung, 1972
Main Job:
= Membidani lahirnya pupuk majemuk phonska yang kini sebagai obat
mujarab untuk meningkatkan produksi pangan khususnya beras.
= Merancang dan memimpin pembangunan beberapa proyek strategis dalam
mengukuhkan pondasi industri pupuk dan kimia di tanah air. Seperti, proyek
Hidrogen Peroksida (H202), Asam Formiat (Formic Acid), Amonium Nitrat (bahan
peledak), proyek Katalis, Gasket, Amoniak dan Urea, Gypsum Plasterboard,
Proyek 2-Ethyl Hexanol (Octanol), dan pabrik peleburan tembaga di PT Pupuk
Kujang dan PT Petrokimia Gresik dengan total investasi kurang lebih 1,15
miliar dolar AS.
= Berhasil menyehatkan manajemen dan membesarkan Petrogres, sehingga
sejajar dengan industri pupuk dunia.
Jabatan Struktural:
Direktur Litbang PT. Petrokimia Gresik 1990-1995
Direktur Utama PT. Petrokimia Gresik 1995-2001
Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer 2001- Sekarang
Jabatan Non Struktural:
Direktur Litbang, dengan tugas Perencanaan Proyek 1990-1995:
Amoniak/Urea - Plaster Boar – Tembaga – Octanol - H2O2
Komisaris Utama PT. Petrosena 1990-1995
Ketua Yayasan Teknik Kimia ITB, 1999-2004
Ketua Umum Badan Kejuruan Kimia – Persatuan Insinyur Indonesia 2000-2003
Ketua Pengurus Daerah Persatuan Senam Indonesia Jatim 1998-2002
Wakil Ketua Umum PII
Jabatan Lain:
Asisten Luar Biasa ITB, 1967-1970
Kabag Perencanaan & Produksi PT. Adiguna Shipyard
Manajer Produksi PT. Adiguna Shpyard
Kabag Urea, Kabag Amoniak, Staf Litbang
Karo Pengembangan PT Pupuk Kujang dengan Penugasan Project Officer:
Hidrogen Peroksida, Asam Formiat, Katalis, Amonium Nitrat di PT. Pupuk
Kujang dan Usaha Patungan, 1982-1987
Kakomp Litbang PT. Pupuk Kujang, 1987-1990
Piagam Penghargaan:
Piagam Penghargaan Karyawan Sewindu PT Pupuk Kujang 1984 .
Pembina Pengembangan Olah Raga Nasional Menteri Pemuda Olah Raga R.I.1995
Penghargaan PATI Persatuan Ahli Teknik Indonesia (PATI)1996
Sempana Karya Nugraha dari Menaker versi SK Suara Menteri Tenaga Kerja
Indonesia 1998
Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan & Bakti Koperasi, PK&M. Menteri
Koperasi 1999
Kesetiaan kerja 10 tahun PT Petrokimia Gresik 2000
Pendidikan Lain al:
The Indonesian Fertilizer Producer Association Jakarta 1991
International Conference Sahwali Award Bali 1991
Outlook for Petro Chemical Industy Development untuk Indonesia Jakarta
1993
Introduction ISO 9000 Bali 1993
Seminar Petrochemical Industry in Indonesia Jakarta 1993
Seminar Asia Nitrogen/British Sulphur CNS Bali 1994
Workshop Re-Engineering Gresik 1994
Asean Nitrogen Bali, 1994
Indonesian Kellog Ammonia CIub (The New Kellog Company)Jakarta 1994
Asosiasi Produsen Gas lndustri Indonesia Jakarta 1994
Asia Nitrogen International Conference & Exhibition Bali 1994
Asia Nitrogen International Bali 1994
Workshop On Technology Tranfer Negotiation Skill lmprovement Medan 1995
Workshop On Technology Tranfer Negotiation Skill Improvement Surabaya 1995
Workshop Peningkatan Kemampuan Surabaya 1995 Negosiasi Alih Teknologi 1995
Conference On Petrochemical Industrial in Indonesia Jakarta 1995
Seminar Nasional Proyek Industri Petro Kimia di Indonesia Surabaya 1995
Seminar Nasional Proyek Industri Petro Kimia di Indonesia Malang 1995
Kuliah Tamu di ITB Bandung 1996
ATM & East Java Manufacturing Surabaya 1996
Diskusi Prospek Teknologi Surabaya 1996
Seminar Revitalisasi Peran BUMN dalam menghadapi Era Globalisasi Jakarta
1996
Conference on Nutrient Management for Sustainable Food Product Bali 1996
Konvensi Nasional Masa Depan Pulau Jawa Abad 21/Cides Jakarta 1996
Lokakarya Pupuk Majemuk Bandung 1996
Revitalisasi Peran BUMN dalam Era Globalisasi Kajian khusus menghadapi Era
AFTA 2003 & APEC 2020Jakarta 1996
Diskusi Forum Kerja Sama Industri Indonesia-Jerman Jakarta 1996
ISO 9000 Gresik 1996
Latin Amerika & The Caribean: Economy Outlook and The opportunities
Jakarta 1996
Seminar Nasional Potensi SDM & Prospek Pengembangan Teknologi di Indonesia
Surabaya 1996
Lokakarya Pupuk Fosfat Bandung 1996
First Sulphur Asia Conference Singapura 1996
Seminar Peluang & Tantangan Profesional Domestic menjelang AFTA Surabaya
1997
Indonesian Gas Association Domestic Gas Forum Surabaya 1997
Forum Kerja Sama Industri Indonesia-Jerman Jakarta 1997
Indonesian-Japan Economic Dialog Jakarta 1997
ISO 14000 Gresik 1997-
Peluang dan Tantangan Profesional Domestik menjelang AFTA Surabaya 1997
1st International Chemical Business & The 24th Annual Meeting of the
Federation of Chemical Industries of Indonesia Jakarta 1997
Asia-Europe Business Conference Jakarta 1997
Asean CCI Meeting Jakarta 1997
Seminar Prospek Ekonomi Kerakyatan & Dunia Usaha Jakarta 1999
Seminar Gas Business Opportunity PII Jakarta 1999
Seminar Gas Business Opportunity, BKK-PII 1999
Indonesia International Oil and Gas Conference & Exchibition 1999, South
East Asia Conference & Exchibition Co. 1999
Seminar Terobosan Technology dalam Industri lainnya, BKK-PII dan
PP-ITB1999
Seminar “Sumber-sumber Penggerak Baru Agribisnis Indonesia”, KADIN
-Jakarta 2000
Seminar Kebijakan Industri Pupuk & Swasembada Pangan, CSPS-LP2NU -Jakarta
2000
Seminar Sehari Harga Pupuk & Swasembada Pangan, Pusat Studi Pembangunan
Lembaga Penelitian IPB -Bogor2000
Indonesia lntemational Oil and Gas Conference & Exhibition 2000, Rantal
Expo lnternational 2000
Pendidikan dan Seminar di Luar Negeri:
Market Survey, USA 1999
Training Operasi Pabrik Urea di MTC Jepang 1977
Seminar Water Treatment Singpore 1978
Project Management USA 1982
Kursus Market survey dan Project Management & Seminar ANPSG, Plant visit,
Amoni um Nitrat dan Asam Nitrat Amerika, Inggris, dan Swedia.1982
Plant visit dalam rangka pencarian Teknologi untuk H2O2, SBR. RRC, Korea,
Jepang. 1986
Klarifikasi ITB Proyek Amonium Nitrat dengan pemilik Teknologi &
Kontraktor. Jerman Barat, USA, Norwegia, Jepang 1987 .
IFA Meeting & Kunjungan Kerja, Jerman, Jepang dan Malaysia 1991
The 59th IFA Annual Conference, Belanda 1991
Kunjungan ke Pabrik Peleburan Tembaga, Jerman 1991
Kunjungan ke Pabrik NPK, DCP, Asam Fosfat. Belanda, Belgia 1991
Chemical Week Conference. Warsawa, Polandia 1992
Regional Conference For Asia & The PacificManila, Pilipina 1993
Asia Pacific Specialities Chemicals Market. Singapore 1994
Asian Petro Chemical Conference Pattaya, Thailand 1994
Asean Petrochem Conference Bangkok, Thailand 1994
British Sulphur Conference USA 1994
The ISSY Asian Petrochemical Conference. Thailand 1994
International Symposium TLB Fertilizer. Beijing, China 1995
The Sixth Meeting of The Board of Directors of the Asean Potash Mining.
Thailand 1995
The 64th IF A Annual Conference Berlin, Jerman 1996
Conference Sulphur Asia Singapore 1996
World Fertilizer Conference Los Angeles. 1996
First Sulfur Asia Conference Singapore 1996
The Second Annual ASPAC Chemical Industry Meeting. Singapore 1997
IFA Meeting. Warsawa, Polandia 1997
Fertilizer Business Asia. Phuket, Thailand 1997
IFA-FADINAP Regional Conference For Asia and The Pacific Chiangmai,
Thailand 1997
The Second Annual Asia Pacific Chemical lndustry Meeting Singapore 1997
The 65th IFA Annual Conference China, Beijing 1997
IFA Regional Conference for Asia & The Pasific Hongkong 1998
Seminar Agro Business Arab Fertilizer Assc. Cairo 1999
China Business Summit Shanghai-RRC, 1999
Makalah dan Artikel :
Fertilizer Industry Outlook In Indonesia, 1994
Peningkatan Kemampuan Alih Teknologi Dalam Bidang Industri, 1995
Prospek Pengembangan Industri Petrokimia di Indonesia, 1995
Prospect of Sulphur and Its Derivative In Indonesia, 1996
Fertilizer Businnes in Indonesia, 1997
Indonesia Fertilizer Industry – An Overview, 1999
Pengembangan Teknologi Baru Sarana Produksi pertanian dalm Rangka
Pencapaian Swasembada pangan, 2000
Pengembangan Industri Pupuk Majemuk dalam rangka Pencapian Swasembada
Pangan, 2000
Harga Pupuk & Swasembada Pangan, 2000
Prospek Industri Kimia Turunan Gas Alam, 2000
Budaya & Etika Korporasi BUMN, 2000
Benefit of Natural Gas Utilization for Industries, 2001
Qualification and Performance of Chemicals Engineer in Industries, 2002
Alamat Kantor:
PT. Asean Aceh Fertilizer
Gedung AAF, Lt. 7
Jl. TB. Simatupang Kav. 18
Cilandak
Jakarta 12430 |
|
| |
|
|
|
|
=
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
Ir Rauf Purnama (1)
Pemikir dan Pelaku Industri
Tidak banyak orang yang sekaligus sebagai pemikir dan pelaku industri.
Salah satu di antara yang langka itu ialah Ir Rauf Purnama. Dia sukses
merancang dan memimpin beberapa proyek industri pupuk dan kimia di tanah
air. Ia seorang CEO andal dan bertangan dingin. Penampilannya sederhana,
enerjik, kreatif dan inovatif. Perspektif pemikirannya selalu memandang
jauh ke depan. Kini, ia berobsesi membangun pabrik enerji alternatif
terpadu dengan pakan ternak. Pantas saja dia digelari industriawan sejati.
Sebagai seorang pemikir dan pelaku industri pupuk dan kimia, dia terus
berinovasi. Untuk menjaga ketahanan pangan khususnya swasem-bada beras,
dia pun memulai (pionir) pembangunan pabrik pupuk phonska (pupuk majemuk)
di Indonesia. Sebuah formula pupuk yang lengkap dan berimbang, yang selain
harganya lebih murah dan memudahkan petani dalam teknis penggunaannya,
juga meningkatkan produksi sekira 2,45 ton per hektar sawah padi.
Selain membidani lahirnya pupuk majemuk phonska, yang kini sebagai obat
mujarab untuk meningkatkan produksi pangan khususnya beras, Presiden
Direktur PT ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) yang mantan Direktur Utama
Petrokimia Gresik (Petrogres), ini juga berhasil memimpin pembangunan
beberapa proyek industri pupuk dan kimia lainnya, seperti pembangunan
proyek Amoniak dan Urea, proyek Gypsum Plasterboard, proyek Hidrogen
Peroksida (H202), Proyek 2-Ethyl Hexanol (Octanol), pabrik Peleburan
Tembaga dan memodifikasi pupuk TSP menjadi SP36, yang kemudian diprogram
menjadi phonska dengan kapasitas 1 juta ton per tahun. Total investasi
yang ditanamkan untuk beberapa proyek tersebut, baik di PT Pupuk Kujang
maupun PT Petrokimia Gresik, seluruh-nya kurang lebih 1,15 miliar dolar
AS.
Tidak berhenti sampai di situ. Ia pun kini berobsesi untuk berkesempatan
membangun industri enerji alternatif terpadu dengan pakan ternak dari
bahan baku jagung, ketela pohon, ubi jalar dan tebu. Sebab, menurutnya,
Indonesia perlu segera mewujudkan swasembada pakan ternak terpadu dengan
upaya men-ciptakan enerji pengganti. Indonesia perlu sedini mungkin
memikirkan enerji alternatif untuk mengantisi-pasi kelangkaan minyak pada
masa depan. Ia memberi contoh AS yang telah mengembangkan ethanol sebagai
enerji alternatif.
Ia juga memandang, Indonesia perlu memprioritaskan pengem-bangan industri
petrokimia, sebagai bahan untuk keperluan berbagai industri lainnya,
termasuk industri tekstil.
Maka, melihat kiprah dan pres-pektif pemikirannya, jika kemudian banyak
kalangan menjulukinya sebagai industriawan sejati, adalah hal yang logis
dan pantas. Ia juga dinilai pantas diberi kesempatan lebih luas untuk
mengembangkan berbagai industri, termasuk enerji alternatif yang
diimpikannya.
Selain itu, ia disebut banyak orang sebagai CEO andal yang bertangan
dingin. Seluruh proyek yang dibidani dan dipimpinnya baik di Kujang maupun
di Petrogres berhasil dengan baik. Kedua proyek itu merupakan industri
pupuk dan kimia pertama di Indonesia, bahkan (pupuk) di ASEAN.
Keberhasilan juga telah mulai diciptakannya setelah ia memimpin PT ASEAN
Aceh Fertilizer (AAF) sejak pertengahan tahun 2001. Beberapa penghargaan
telah ia raih, baik dari dalam maupun luar negeri. Terakhir penghargaan
dari Perdana Menteri Kamboja (2002).
Dia memang seorang CEO BUMN yang fenomenal, kreatif dan menatap jauh ke
depan. Kalangan industri pupuk dan kimia nasional pasti mengenal sarjana
teknik kimia ITB (1972), kelahiran Garut 21 Maret 1943, ini. Dia sosok
pemikir, CEO dan industriawan yang mengangkat citra industri pupuk dan
kimia nasional.
Lihat saja kiprahnya selama delapan tahun di PT Pupuk Kujang (1976-1990).
Dialah yang merancang dan menyelesaikan pembangunan beberapa proyek dalam
mengukuh-kan pondasi industri pupuk dan kimia di tanah air. Seperti proyek
Hidrogen Peroksida (H202), Asam Formiat (Formic Acid), Amonium Nitrat (bahan
peledak) dan proyek Katalis. Sebagai kepala proyek, dia juga menyelesaikan
pembangunan proyek Gasket.
Kiprahnya tak berhenti di sini. Pada tahun 1990 pemerintah meng-angkatnya
menjadi Direktur Penelitian dan Pengembangan PT Petrokimia Gresik (Petrogres).
Jabatan ini dipegangnya selama lima tahun sampai 1995. Sete-lah itu dia
diserahi tanggung-jawab yang lebih berat lagi menjadi Direktur Utama
Petrogres. Tugas utamanya adalah untuk menyelamatkan perusahaan ini agar
tidak bangkrut.
Kepercayaan itu tidak disia-siakannya. Selama 11 tahun menjabat Litbang
dan Direktur Utama (1990-2001), dia telah berhasil menyehatkan manajemen
dan membesarkan Petrogres, sehingga sejajar dengan industri pupuk dunia.
Penulis beberapa makalah dan artikel, di antaranya — Fertilizer Industry
Outlook In Indonesia (1994); Peningkatan Kemampuan Alih Teknologi Dalam
Bidang Industri (1995); Prospect of Sulphur and Its Derivative In
Indonesia (1996); Fertilizer Businnes in Indonesia (1997); Pengembangan
Industri Pupuk Majemuk dalam rangka Pencapian Swasembada Pangan (2000);
Budaya & Etika Korporasi BUMN (2000); Benefit of Natural Gas Utilization
for Industries (2001) dan Qualification and Performance of Chemicals
Engineer in Industries – ini sangat prihatin dan ‘gelisah’ melihat kondisi
pangan Indonesia.
Menurutnya, persoalan besar yang masih dihadapi bangsa Indonesia adalah
masalah sandang, pangan dan papan. Dari tiga permasalahan itu yang paling
lemah adalah masalah pangan. Sebab, untuk menutupi kebutuhan pangan
nasional, masih mengimpor beras lebih dari 3 juta ton per tahun. “Kondisi
ini sungguh memprihatinkan dan sangat riskan,” katanya.
Untuk memutus ketergantungan impor beras, paling tidak agar produksi padi
dapat mengimbangi kebutuhan pangan nasional, Ketua Badan Persatuan
Insinyur Kimia Indonesia, ini menyarankan agar pemerintah berani mengubah
kebijakan industri pupuk nasional. Perubahan kebijakan ini menurut-nya,
bukan hanya dari segi penggu-naannya oleh petani. Lebih dari itu, yakni
mengubah mekanisme pupuk nasional agar tidak terfokus pada produksi urea (pupuk
tunggal) yang selama ini sudah kurang mendukung dalam peningkatan produksi
pangan, khususnya beras. Tetapi beralih mengembangkan dan memproduksi
pupuk majemuk.
Jika orientasi industri pupuk nasional hanya mengandalkan urea, maka pada
titik tertentu petani yang paling dirugikan. Sebab, dengan menggunakan
pupuk urea saja atau menggunakan pupuk urea secara berlebihan, akan
menyebabkan terjadinya penurunan produksi secara mencolok. Seharusnya,
katanya, dilakukan pemupukan berimbang (balance fertilization).
Sementara, dari enam badan usaha milik negara (BUMN) produsen pupuk, ha-nya
Petrokimia yang mempro-duksi pupuk majemuk, seki-tar 300.000 ton per tahun.
Paling rendah dibanding negara lain, seperti Thailand, Vietnam, Malaysia
dan Filipina. Padahal, kebutuhan domestik untuk tanaman padi saja mencapai
3,6 - 4,8 juta ton per tahun, tergantung pada formula pupuk.
Menurut Rauf, dari hasil ujicoba di beberapa daerah di Pulau Jawa dan di
luar Jawa, penggunaan pupuk Phonska (pupuk majemuk) terbukti dapat
meningkatkan produksi padi rata-rata 2,45 ton per hektar. Sementara
harganya lebih murah dibandingkan pupuk NPK impor. Saat ini rata-rata
harga pupuk NPK impor 3-4 ribu rupiah per kilogram. Sedangkan phonska
harganya di bawah 2 ribu rupiah per kilogram.
Maka dia menyambut gembira upaya Departemen Pertanian untuk
menyosialisasikan peng-gunaan pupuk majemuk phonska. Pada tahun 2003
targetnya satu juta hektar dari total 11,6 juta hektar. Kebijakan ini,
merupakan awal yang baik untuk mencapai ketahanan pangan. Sehingga tahun
2010-2015, Indonesia tidak perlu mengimpor beras.
Untuk itu, menurut Rauf, upaya sosialisasi pupuk phonska yang dilakukan
Deptan perlu diimbangi dengan kesiapan Departemen Perindustrian dan
Perdagangan mempersiapkan pembangunan pabriknya. Kalau tidak, akan menjadi
pincang. Sebab, akan terjadi kesulitan karena produksi phonska tidak dapat
menutupi kebutuhan dan akhirnya harus impor phonska. Sebaiknya mulai
sekarang perencanaan pabriknya sudah harus dimulai, dengan
mempercayakannya kepada orang yang mempunyai kompetensi tentang industri
pupuk.
Minimal pada tahun 2007 produksi phonska nasional mencapai 2,3-2,8 juta
ton. Atau targetnya sama dengan produksi phonska Thailand sebesar 2,8 juta
ton per tahun. Bila ini bisa dicapai maka jumlah ini cukup untuk memupuki
5,3 juta hektar, dengan asumsi tiap hektar menggunakan 500 kg phonska.
Dengan penggunaan pupuk phonska (produksi gabah kering panen meningkat
rata-rata 2,45 ton per hektar), maka akan terjadi peningkatan produksi
sebesar 12,985 juta ton gabah kering panen (GKP), atau setara 5,8 juta ton
beras per tahun. Maka swasembada pangan bukan lagi angan-angan, tapi bisa
diwujudkan.
Menurut Rauf, banyak keuntung-an yang bisa dipetik dari pengem-bangan
industri pupuk phonska. Selain meningkatkan produksi padi juga mempunyai
keuntungan dari tambahan pendapatan ekspor urea. Jika Indonesia bisa
memproduksi 2,8 juta ton phonska, maka terjadi peningkatan ekspor urea
sebesar 913.000 ton. Dengan demikian ada tambahan devisa dari produsen
urea secara nasional sebesar 31,95 juta dolar AS.
Latar belakang pengembangan industri pupuk majemuk, antara lain karena
selama tiga dasawarsa petani di Indonesia menggunakan pupuk tunggal dalam
melaksanakan usaha taninya, tidak mampu lagi meningkatkan produksi.
Sementara para petani negara-negara tetangga sudah lama menggunakan pupuk
majemuk. Selain itu, dengan dicabut-nya tata niaga dan subsidi pupuk oleh
pemerintah, serta rendahnya harga produk pertanian, khususnya beras,
mengakibatkan para petani tidak mampu membeli pupuk. Sehingga program
pemupukan berimbang kurang berhasil dengan baik. Itulah sebabnya
produktifitas hasil pertanian tidak dapat ditingkatkan.
Bertitik tolak dari kondisi tersebut, Rauf saat memimpin Petrokimia Gresik,
sejak 1998 merintis pembangunan pabrik pupuk majemuk phonska pertama di
Indonesia, dengan kapasitas produksi 300.000 ton per tahun. Pabrik ini
beroperasi secara komersial mulai November 2000.
Dalam hubungan ini, Petrogres telah mengembang-kan proyek ketahanan pangan
di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogyakarta dan Jawa Timur.
Pada tahun tanam 2000, proyek ketahanan pangan ini dikembangkan di atas
lahan 100 ribu ha. Cakupannya akan diperluas hingga 400 ribu hektar.
Ketika itu, dia pun merencanakan pengembangan pabrik pupuk majemuk Phonska
II Petrogres dengan kapasitas 800.000 ton per tahun. Realisasi pembangunan
pabrik ini masih tertunda, yang diharapkan tahun 2005 dapat beroperasi
secara komersil. Di samping itu ada program modifikasi SP 36 menjadi
phonska dengan kapasitas 1 juta ton per tahun, sehingga pada 2006-2007
produksinya menjadi 2,3 juta ton per tahun. Sehingga dapat memberikan
pemupukan 4,6 juta hektar lahan sawah padi yang akan memberikan penambahan
produksi GKP 11,27 juta ton (4,6 juta x 2,45 ton) atau 5 juta ton beras
(11,27 juta ton x 0,8 x 0,56) per tahun.
Selain itu, juga direncanakan produksi DCP (di calcium phosfat) untuk
meningkatkan pertumbuhan ternak. Hal ini sudah dicoba dan bisa menaikkan
1,3 -1,7 kg per hari. Serta rencana produksi pupuk potas atau potasium
sulfat (K2SO4) khusus untuk tembakau.
Ketika memimpin Petrogres, dia berhasil menyehatkan perusahaan ini dari
kondisi keuangan perusahaan yang kurang sehat. Labanya kecil sekali dan
selalu disubsidi oleh pemerintah. Meskipun demikian, sebagai BUMN Petroges
adalah perusahaan industri pupuk yang pertama sekali melepaskan diri dari
ketergantungan akan subsidi. Pemerintah menghentikan subsidinya pada akhir
tahun 1994, sedangkan subsidi bagi perusahaan lainnya dihentikan tahun
1998.
Ketika berbicara kepada Tokoh Indonesia, Rauf tidak mau membicarakan masa
lalu terutama saat dia memimpin Petrogres. Tetapi, menurut data yang
diperoleh Tokoh Indonesia dari Petrogres, bahwa selama 23 tahun perusahaan
beroperasi, memperoleh laba tertinggi pada tahun 1986 dan 1987, yakni
sebesar Rp 40 miliar. Sebelum 1986-1987 kalaupun ada untungnya sangat
kecil, malah lebih banyak ruginya. Sedangkan setelah 1987 sampai 1995 (sebelum
Rauf Purnama memimpin Petrogres) untungnya di bawah Rp 20 miliar.
Bahkan sampai pertengahan 1995 Petrogres mengalami kerugian Rp 30 miliar.
Petrogres bisa beroperasi karena menerima subsidi dari pemerintah sebesar
Rp 350 miliar per tahun tanpa PPn.
Di tangan Rauf, perusahaan ini memasuki babak baru. Dia melaku-kan
efisiensi di sana-sini. Lubang-lubang yang selama itu menganga, ditutupnya.
Dia melakukan penghe-matan. Misalnya, dalam pembelian bahan baku fosfat,
yang tadinya 62 dolar AS per ton di tahun 1995, dite-kan menjadi 53-37
dolar AS per ton pada 1999-2001. Harga fosfat bisa ditekan karena membeli
dari beberapa sumber, sehingga perusahaan dapat menghemat biaya bahan
baku.
Contoh penghematan lain adalah dipercepatnya proyek tembaga yang bisa
menghasilkan (hasil samping) asam sulfat sebagai bahan baku pupuk dengan
harga di bawah $ 15 per ton. Sedangkan harga impor $ 40 per ton. Di
samping itu diadakan modifikasi pupuk TSP menjadi SP 36 yang harganya
lebih murah bagi petani.
Terbukti, hanya dalam tempo enam bulan, terjadi perubahan yang signifikan.
Sewaktu tutup buku 1995, Petrogres yang tadinya rugi, akhirnya memperoleh
laba Rp 6,07 miliar.
Karena sudah mampu berdiri sen-diri, sejak tahun 1995, pemerintah pun
menghentikan kucuran subsidi-nya. Laba perusahaan naik menjadi Rp 62,71
miliar di tahun 1996, dan Rp 62,68 miliar pada 1997. Bahkan, pada saat
perekonomian nasional mulai ambruk karena krisis ekonomi, Petrogres
sepertinya tak tergoyahkan. Sebab, ketika tutup buku 1998, perusahaan ini
masih mengantongi laba Rp 148,34 miliar, dan naik menjadi Rp 391,94 miliar
pada tahun 1999 dari rencana Rp 166,51, dan Rp 257,8 miliar di tahun 2000
dari rencana Rp 180 miliar.
Begitu juga rasio omset per karyawan meningkat dari tahun ke tahun. Rasio
omset per karyawan pada tahun 1995 sebesar Rp.175,70 juta, meningkat
menjadi Rp.217 ,51 juta (1996), Rp.219,78 juta (1997), Rp.337,91 juta
(1998), Rp.534,45 juta (1999) dan Rp.597,52 juta (2000). Nilai penjualan
juga selalu naik dari Rp 724,76 milyar pada tahun 1994 menjadi Rp 1,75
trilyun tahun 2000.
Ketika banyak industri melakukan pemutus-an hubungan kerja (PHK) terhadap
karyawannya karena krisis, sebaliknya Petrogres melakukan beberapa kali
peningkatan gaji karyawannya. Penghasilan karyawan terendah yang
sebelumnya Rp 357.000 per bulan pada 1995, ditingkatkan menjadi Rp 910
ribu pada 2001.
Tak hanya kenaikan gaji, perusahaan pun membangun 602 unit rumah yang
sangat diharapkan oleh para karyawan, karena perusahaan memberikan
fasilitas kredit dengan bunga ringan, sehingga tidak memberatkan
mereka.Tidak hanya ke dalam, dia memberi perhatian yang cukup besar
terhadap pembinaan usaha kecil dan koperasi (PUKK).
Hal ini diwujudkan dengan pemberian fasilitas dana dalam bentuk hibah
maupun dana revolving. Tahun 1995 dana yang disalurkan sebesar Rp 331 juta,
meningkat menjadi Rp 592 juta (1996), Rp 635 juta (1997). Pada saat krisis
ekonomi mencapai puncaknya, Petrogres malah meningkatkan bantuan. Tahun
1998 dana yang disalurkan Rp 1,20 miliar, naik menjadi Rp 4,72 miliar, dan
Rp 13,10 miliar tahun 2000.
Posisi modal sendiri dan jumlah utang pada tahun 1994 mencapai
perbandingan 20 : 80 (modal sendiri Rp 347,8 milyar dan jumlah utang Rp
1,466 trilyun). Pada tahun 2000 perbandingan jumlah modal sendiri dengan
jumlah utang menjadi 40 : 60 (modal sendiri Rp 880 milyar dan utang Rp
1,339 trilyun). Hal ini sudah termasuk tambahan pinjaman untuk industri
pupuk phonska sebesar Rp 220 milyar. Pada saat serah terima jabatan, Mei
2001, posisi Petrogres sangat baik, mempunyai deposito sebanyak Rp 511
milyar dan piutang Rp. 300 milyar.
Bahkan ia sudah membuat rencana perkembangan Petrogres sampai tahun 2006.
Direncanakan laba setelah pajak tahun 2001 mencapai Rp 323,95 milyar,
tahun 2002 Rp.321,85 milyar, 2003 Rp.351,09 milyar, 2004 Rp.438,24 milyar,
2005 Rp.628,74 milyar dan 2006 naik lagi menjadi Rp.698,91 milyar.
Begitu juga rasio omset per karyawan, direncanakan selalu naik dari Rp
661,34 juta tahun 2001 menjadi Rp 1.012,08 juta tahun 2006. Sementara
total aset diperkirakan akan selalu naik dari Rp 1.969,64 milyar tahun
2001 menjadi Rp 6.126,46 milyar tahun 2006. Nilai penjualan Petrogres
dalam rencana yang dibuat Rauf Purnama juga akan terus mengalami kenaikan
dari Rp.2.647,34 milyar tahun 2001 menjadi Rp 4.554,38 milyar tahun 2006.
Jumlah karyawan juga akan bertambah dari 4000 orang (2001) menjadi 4.500
orang (2006). Selengkapnya lihat tabel.
(Namun, kini berbagai target ini
tidak bisa dicapai setelah ia tidak di Petrogres lagi).
Prestasi serupa juga telah mulai diciptakannya setelah ia memimpin PT
ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) sejak pertengahan tahun 2001. Ia memang
seorang CEO bertangan dingin. Ketika ia masuk AAF, pabrik dalam keadaan
mati karena pasokan gas terhenti akibat faktor keamanan. Namun, satu tahun
di tangannya, tahun 2002, AAF telah meraih keuntungan sebesar Rp.186
miliar sebelum pajak.
Selain itu, sebagaimana lazimnya ia memimpin di setiap perusahaan, ia
selalu membuat rencana perusahaan dalam 10 tahun. Baik di Pupuk Kujang
maupun di Petrogresik. Kini di AAF juga sudah dibuat rencana perkembangan
perusahaan dalam 10 tahun ke depan.
Bahkan beberapa orang yang mengenalnya, menilai pria yang berpandangan
hidup, sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain, ini
pantas saja diberi kesempatan lebih besar untuk dapat mewujudkan idenya
mengembang-kan berbagai jenis industri termasuk substitusi enerji itu.
Suami dari Mien Gunarsyah dan ayah dari 3 anak (2 laki-laki, 1 perempuan)
ini telah mengukir prestasi yang patut ditularkan kepada banyak orang. Ia
telah memperoleh berbagai penghargaan, antara lain, Sempana Karya Nugraha
1998 dan Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan & Bakti Koperasi, PK&M
1999.
Pria yang enerjik, segar bugar dan inovatif, ini gemar berolahraga untuk
menjaga kesehatan dan kesegaran jasmaninya. Ia juga sosok yang tulus dan
akrab dengan selalu menebar suka-cita kepada lawan bicaranya. Terutama,
selalu pasrah dan taqwa kepada Allah penciptanya. Baginya tidak ada batas
usia untuk mengemban amanah dari masyarakat, bangsa dan negara, terutama
dari Allah yang mengasihinya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
=
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
|
|