| |
C © updated 01092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti-atur |
|
| |
Nama :
Ir. Rauf Purnama
Lahir :
Garut, 21 Maret 1943
Agama :
Islam
Jabatan :
Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer
Pendidikan Formal:
SR Garut, 1956
SMP Garut, 1959
SMA IPA, Garut 1962
Sarjana Teknik Kimia ITB – Bandung, 1972
Main Job:
= Membidani lahirnya pupuk majemuk phonska yang kini sebagai obat
mujarab untuk meningkatkan produksi pangan khususnya beras.
= Merancang dan memimpin pembangunan beberapa proyek strategis dalam
mengukuhkan pondasi industri pupuk dan kimia di tanah air. Seperti, proyek
Hidrogen Peroksida (H202), Asam Formiat (Formic Acid), Amonium Nitrat (bahan
peledak), proyek Katalis, Gasket, Amoniak dan Urea, Gypsum Plasterboard,
Proyek 2-Ethyl Hexanol (Octanol), dan pabrik peleburan tembaga di PT Pupuk
Kujang dan PT Petrokimia Gresik dengan total investasi kurang lebih 1,15
miliar dolar AS.
= Berhasil menyehatkan manajemen dan membesarkan Petrogres, sehingga
sejajar dengan industri pupuk dunia.
|
|
| |
|
|
|
|
=
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
Oleh: Ir Rauf Purnama, Ketua Umum PII (7)
Nilai Tambah SDA
untuk Kesejahteraan Rakyat
Indonesia adalah negara kaya namun relatif masih belum makmur dan
sejahtera. Hal itu terlihat dari masih rendahnya angka GDP (Gross
Domestic Product), penerimaan pemerintah dari Pajak (PPn dan PPh), Non
Pajak, cadangan devisa, serta masih sempitnya lapangan pekerjaan.
GDP perkapita Indonesia tahun 2002 hanya sebesar US$ 830 dan tahun 2003
US$ 991, lebih tinggi dari Vietnam namun masih lebih rendah dari
negara-negara Asean lainnya. Bandingkan dengan GDP perkapita tahun 2002
Philipina (US$ 966), China (US$ 963), Thailand (US$ 2003), Malaysia (US$
3,869), dan Singapura (US$ 20,917). Tahun 1996 sebelum krisis, dengan
jumlah penduduk 197,2 juta jiwa GDP Indonesia US$ 223,5 miliar sehingga
sudah diperoleh GDP perkapita Indonesia US$ 1,134.
Mengenai cadangan devisa, tahun 2002 Indonesia hanya mempunyai US$ 30,5
M masih lebih rendah dari cadangan devisa Malaysia (US$ 32,01 M),
Thailand (US$ 38,92 M), Singapura (US$ 79,04 M), dan China (US$ 291,13
M). Dari angka-angka tersebut disimpulkan bahwa tingkat kemakmuran dan
kesejahteraan Indonesia di Asean masih berada pada posisi ke-5 di bawah
Singapura, Malaysia, Thailand, dan Philipina.
Cara meningkatkan GDP perkapita serta sekaligus meningkatkan peringkat
kemakmuran dan kesejahteraan penduduk Indonesia, salah satu cara yang
terutama adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor riel
khususnya dalam bidang industri. Pertumbuhan ekonomi tinggi akan
meningkatkan penerimaan pemerintah dari pajak dan menambah lapangan
kerja. Menurut BMI (Business Monitor Indonesia, 2003), pertumbuhan
ekonomi Indonesia tahun 2003 sebesar 4%, dan forecast tahun 2004 dan
2005 sebesar 5%, jauh di bawah Vietnam dan China yang masing-masing
sudah di atas 7%.
Indonesia perlu segera melakukan terobosan-terobosan dengan cara
menciptakan usaha-usaha baru baik dengan pengembangan usaha yang ada,
maupun menciptakan produk-produk baru dari sumberdaya alam (SDA) yang
kita miliki melalui Industrialisasi dengan menggunakan Teknologi.
“Technology is The Engine of Economic Growth, Building New Industries,
Creating New Jobs and Improving Our Standard of Living,” kata William J.
Clinton. GDP dan cadangan devisa Indonesia bisa lebih cepat ditingkatkan
apabila sumberdaya alam yang ada khususnya hasil tambang, hasil
pertanian, dan hasil hutan diolah atau diproses lebih dahulu di dalam
negeri agar nilai tambahnya bisa ditingkatkan.
Pada tahun 1996 penerimaan Negara dari pajak sebesar Rp 48 triliun, dan
tahun 2002 mencapai Rp 350 triliun namun tetap masih belum mencukupi
untuk memenuhi anggaran belanja Negara sehingga harus ditutupi dari
hasil non pajak seperti penjualan BUMN. Selama ini anggaran selalu
defisit, artinya belanja rutin dan pembangunan jauh lebih besar dari
penerimaan berupa pajak dan non pajak. GDP dan pajak akan
meningkat apabila dilakukan investasi di sektor riel seperti bidang
industri dan infrastruktur. Untuk perolehan atau penghematan devisa perlu
diprioritaskan pada industri yang menghasilkan produk-produk ekspor yang
berbasis sumberdaya alam (SDA) yang tersedia di Indonesia.
Usaha-usaha baru untuk meningkatkan pajak adalah, pertama, mengembangkan
usaha yang sudah ada (ekspansi), dan kedua, menciptakan usaha-usaha baru
dalam bidang industri (diversifikasi).
Indonesia sangat kaya akan sumberdaya alam. Perlu ada prioritas utama
dalam pengelolaan sumberdaya alam yakni dengan meningkatkan nilai tambah
melalui industrialisasi. Sumberdaya alam yang berlimpah bisa ditingkatkan
nilai tambahnya melalui sentuhan teknologi untuk menghasilkan berbagai
macam produk yang bisa bersaing di pasar domestik dan pasar global.
Produk-produk baru yang nilai jualnya lebih tinggi akan memberikan dampak
pada Pemerintah yang lebih besar berupa pajak dan cadangan devisa. Contoh
meningkatkan nilai tambah dari sumberdaya alam MIGAS seperti Naphtha, Gas
Alam, dan LPG jika pengolahan dilakukan di dalam negeri adalah sebagai
berikut.
Naphtha
Selama ini Naphtha hasil refinery yang berjumlah 1,3 juta ton diekspor
langsung dengan harga antara US$ 200-300 per ton. Jika Naphtha diolah di
dalam negeri untuk dijadikan bahan serat Polyster (benang) untuk industri
tekstil akan diperoleh produk-produk: Paraxylene dengan harga di atas US$
500/ton, kemudian PTA dengan harga di atas US$ 600/ton, Polyster Chip US$
1,000/ton, Polyster Fibre (serat polyser) US$ 1,200/ton, dan tekstil
sekitar US$ 1,250/ton. Penghasilan pajak yang diperoleh Pemerintah dari
berbagai produk hasil industri di dalam negeri itu jika dihitung rata-rata
bisa mencapai US$ 629/ton.
Dari jumlah Naphtha yang sebesar 1,3 juta ton jika diolah di dalam negeri
maka akan diperoleh total penerimaan Pemerintah dari pajak sebesar US$
817,17 juta (1,3 juta x US$ 629). Total penerimaan dari pajak dan
penjualan Naphtha ke dalam negeri untuk industri sebesar US$ 1,077 miliar,
itu jauh lebih besar dibanding jika Naphtha ekspor dengan penghasilan
hanya sebesar US$ 390. Setiap produk yang dihasilkan dari pengolahan
Naphtha di dalam negeri akan memberikan keuntungan untuk Pemerintah baik
berupa pajak PPn dan PPh serta lapangan kerja.
Gas Alam
Saat ini Indonesia sudah mulai mengekspor gas alam langsung melalui pipa,
di samping ekspor gas berupa LNG. Apabila gas alam sejumlah 124 MMSCFD
diekspor dengan harga US$ 2,3/MMBTU, pemerintah akan memperoleh penerimaan
dari bagi hasil dan pajak sebesar US$ 65,9 juta/tahun (0,7 x US$ 2,3 x 330
x 124 x 1000). Sedangkan kalau diproses di dalam negeri untuk menghasilkan
amoniak, methanol, ethyl hexanol, acrylonitrile, dan amonium nitrat
sekalipun dengan harga gas lebih murah (US$ 1/MMBTU), pemerintah akan
memperoleh pendapatan dari bagi hasil dan pajak sebesar US$ 79,4 juta/tahun
(dari gas sebesar US$ 28,6 juta, ditambah dari pajak sebesar US$ 66,70
juta).
Dari sini dapat dilihat bahwa dengan mengekspor hasil tambang berupa gas
alam tanpa diolah terlebih dahulu, pemerintah bukan hanya akan kehilangan
pendapatan (potential losses) sebesar US$ 66,70 juta per tahun juga
kehilangan kesempatan lapangan kerja.
Industri yang menggunakan bahan baku Migas (Minyak dan Gas Alam) disebut
industri petrokimia. Industri petrokimia yang mempunyai nilai tambah
tinggi produk-pro-duknya bisa digunakan untuk mendukung berbagai keperluan
seperti untuk industri pangan, sandang, papan, telekomunikasi,
transportasi, pertahanan dan keamanan. Selain Migas, sumberdaya alam
lainnya seperti hasil pertanian, kehutanan, perikan-an, dan peternakan
juga bisa ditingkatkan nilai tambahnya melalui proses Industri.
L P G
LPG (Liquified Petroleum Gas) adalah campuran propane (C3) dan butane
(C4), yang bisa digunakan baik sebagai energi maupun sabagai bahan baku
industri. Sejak tahun 1991 sampai tahun 2000 jumlah LPG yang diekspor
lebih dari 2 juta ton per tahun dengan harga rata-rata US$ 150 per ton.
Apabila LPG diproses di dalam negeri akan dihasilkan produk propylene dan
butadiene yang selanjutnya jika diproses akan menghasilkan polypropylene
(PP) dan Styrene Butaniene Rubber (SBR), masing-masing untuk keperluan
plastik dan industri ban.
Jika komposisi LPG terdiri dari 70% propane dan 30% butane, nilai tambah
dari perolehan Pemerintah dari LPG diekspor jauh lebih rendah jika
dibandingkan bila diproses di dalam negeri.
Dengan harga jual US$ 150/ton, ekspor 2 juta ton LPG menghasilkan
penerimaan Pemerintah sebesar US$ 300 juta per tahun. Tetapi apabila
diproses dalam negeri Pemerintah akan mendapatkan tambahan penerimaan dari
LPG dan pajak produk-produk petrokimia (PPn dan PPh) sebesar US$ 384 juta
pertahun sehingga penerimaan total Pemerintah dari LPG meningkat menjadi
US$ 609 juta per tahun walaupun dengan harga subsidi sebesar US$ 25/ton.
Gerakan Daya Saing
Peningkatan perolehan pajak dan devisa dengan melakukan investasi di
sektor riel tidak mungkin bisa berjalan dengan mulus tanpa memperhatikan
daya saing Indonesia di pasar global, karena daya saing merupakan cerminan
dari para investor untuk menanamkan investasinya. Menurut BMI, daya saing
Indonesia di dunia internasional (global competitiveness) saat ini berada
pada posisi urutan 76, dan khusus di antara negara-negara berpenduduk di
atas 20 juta jiwa Indonesia berada pada posisi urutan 28 jauh di bawah
Thailand yang berada pada urutan 16. Makin baik peringkat daya saing
Indonesia di pasar global makin banyak investor yang menanamkan
investasinya di Indonesia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan BMI daya saing setiap Negara
didasarkan pada tiga paramater yaitu politik, ekonomi, dan iklim usaha.
Peringkat daya saing Indonesia saat ini (kwartal I 2004) adalah, daya
saing politik pada peringkat 91, daya siang ekonomi pada peringkat 49, dan
daya saing iklim usaha pada peringkat 73. Atau, secara keseluruhan (gabungan)
peringkat daya saing Indonesia di Asia berada pada urutan ke-76.
Memperbaiki daya saing Indonesia di pasar global harus dilakukan oleh
seluruh rakyat Indonesia, dipelopori Pemerintah dan didukung oleh
legislatif, yudikatif, partai poitik, dan organisasi yang ada di
masyarakat termasuk media massa cetak dan elektronik. Untuk itu perlu
Pemerintah mencanangkan Gerakan meningkatkan Daya Saing (GDM) serta
mensosialisasikan kepada seluruh aparat Pemerintah dan masyarakat.
Penerimaan Pemerintah
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa meningkatkan GDP dan Devisa apabila
investasi diarahkan ke sektor riel, seperti bidang Industri yang
menghasilkan produk-produk selain untuk kebutuhan dalam negeri juga
diarahkan untuk andalan ekspor.
Pertumbuhan industri di sektor riel akan meningkatkan penerimaan
Pemerintah dari pajak (PPn dan PPh) serta memberikan lapangan kerja dan
perolehan/penghematan devisa. Penerimaan Pemerintah yang meningkat dari
sektor pajak akan memberikan kesejahteraan baik untuk pegawai pemerintah
maupun untuk masyarakat dengan meningkatkan pelayanan umum seperti sektor
pendidikan, kesehatan, sosial, pengembangan sarana seperti jalan, jembatan,
pelabuhan, dan lain sebagainya.
Saat ini banyak perusahaan-perusahaan manufakturing dan industri berhenti
dan tutup karena berbagai masalah terutama daya saing di pasar global.
Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator harus mendorong pengusaha
agar mempertahankan industrinya tetap beroperasi, jika perlu Pemerintah
memberikan insentif.
Keberhasilan pembangunan industri harus didukung oleh kerjasama antara
Pemerintah/BUMN dengan swasta nasional dan asing. Sejauh masih cukup
menarik bagi inestor Pemerintah tidak perlu berpartisipasi dalam investasi.
Peranan Pemerintah cukup sebatas sebagai regulator dan fasilitator untuk
menciptakan iklim investasi yang dapat mendorong swasta nasional maupun
swasta asing mau menanamkan modalnya. Untuk sektor industri hulu, yang
umumnya kurang menarik bagi investor swasta lokal karenya investasinya
cukup besar, Pemerintah perlu turun tangan. Pengorbanan Pemerintah di
sektor hulu dengan memberikan insentif akan memberikan imbalan kepada
penerimaan Pemerintah yang jauh lebih besar di sektor-sektor hilir berupa
pajak dan lapangan kerja.
Sudah diketahui bersama bahwa investasi di sektor riel harus menjadi
prioritas utama. Namun sektor riel sendiri masih harus ada prioritas,
apakah investasi sektor riel itu di bisnis inti atau di bisnis pendukung.
Sektor riel bisnis inti yaitu sektor di bidang industri yang menghasilkan
produk-produk baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk pasar ekspor,
sedangkan bisnis pendukung sektor riel contohnya adalah seperti property (perkantoran,
hotel, perumahan, mall, dll). Demikan juga dalam hal pemberian kredit
perbankan diantara keduanya harus ada prioritas. Kredit perbankan pada
sektor riel industri khususnya Industri yang berbasis bahan baku
sumberdaya alam harus mempunyai porsi kredit lebih besar, karena sektor
industri tersebut selain akan meningkatkan penerimaan Pemerintah dari
pajak dan tambahan lapangan kerja juga akan memberikan dampak lainnya
yaitu perolehan dan penghematan devisa. Selain itu masih akan terjadi pula
trickle down effect, menggerakan usaha kecil dan menengah, serta
meningkatkan daya beli sebagian besar anggota masyarakat yang terlibat. ► Majalah Tokoh
Indonesia Volume 14
Penulis: Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer, seorang
pemikir dan pelaku industri. Mantan Direktur Litbang PT. Petrokimia Gresik
1990-1995 dan Direktur Utama PT. Petrokimia Gresik 1995-2001, ini sukses
merancang dan memimpin beberapa proyek industri pupuk dan kimia di tanah
air. Ia seorang CEO andal dan bertangan dingin. Membidani lahirnya pupuk
majemuk phonska yang kini sebagai obat mujarab untuk meningkatkan produksi
pangan khususnya beras.Merancang dan memimpin pembangunan beberapa proyek
strategis dalam mengukuhkan pondasi industri pupuk dan kimia di tanah air.
Seperti, proyek Hidrogen Peroksida (H202), Asam Formiat (Formic Acid),
Amonium Nitrat (bahan peledak), proyek Katalis, Gasket, Amoniak dan Urea,
Gypsum Plasterboard, Proyek 2-Ethyl Hexanol (Octanol), dan pabrik
peleburan tembaga di PT Pupuk Kujang dan PT Petrokimia Gresik dengan total
investasi kurang lebih 1,15 miliar dolar AS.Berhasil menyehatkan manajemen
dan membesarkan Petrogres, sehingga sejajar dengan industri pupuk dunia.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) =
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
|
|