| BERITA |
|
|
 |
Rocky Gerung
2008: Pertaruhan Keadilan Sosial
Isu politik yang akan kuat mewarnai tahun 2008 pastilah soal calon-calon
presiden. Nama-nama lama sudah beredar di media massa. Nama-nama baru
masih berusaha mencari cara untuk membuat ”geger” guna menarik perhatian
publik.
Tentu, baik wajah lama maupun peserta baru, harus menyodorkan kritik
tajam pada pemerintah sekarang ini agar kontras politik dapat dipamerkan
pada rakyat.
Ini rumus oposisi politik standar. Reaksi juga sudah datang
dari Presiden Yudhoyono. Dan reaksi itu selalu mengambil posisi defensif.
Ini juga adalah jurus dasar sebuah pemerintahan yang ingin bertahan.
Persaingan ini akan mengerucut nanti dalam kampanye Pemilu. Tapi itu
masih lama untuk bisa dihitung dari sekarang.
Kualitas Kebijakan
Yang dapat dilakukan sekarang adalah percobaan untuk membaca keresahan
politik Presiden Yudhoyono terhadap rentetan kritik atas kondisi
kehidupan rakyat yang masih sulit pada masa pemerintahannya ini, dan
akibatnya pada popularitasnya tahun 2008.
Kebiasaan Presiden mengeluhkan beban kerjanya, justru menjadi umpan
bagus bagi para pengkritiknya untuk terus membuat ”geger”, dan memancing
Presiden untuk terus bersikap defensif.
Perang statistik misalnya sedang berlangsung antara pemerintah dengan
para kritisi kebijakan publik. Negara tentu memiliki data resmi untuk
membela kebijakannya. Tetapi politik bukanlah soal validitas data semata.
Pertandingan politik adalah pertandingan interpretasi kebijakan.
Dan dalam soal ini tampaknya posisi presiden justru terpojok. Artinya,
sekeras-kerasnya argumen kuantitatif presiden untuk memperlihatkan
kemajuan-kemajuan pemerintahannya, tetap tidak dapat menutup kondisi
kualitatif rakyat yang terus merasa terhimpit oleh berbagai kebijakan
kabinet yang tidak populer. Indikator-indikator kemajuan ekonomi terlalu
jauh dari ruang sosial rakyat sehari-hari.
Apalagi bila isu keadilan (yang pasti amat kualitatif) masuk dalam
pikiran publik. Misalnya, soal jarak kekayaan yang amat tinggi antara 40
orang terkaya di Indonesia dengan penderitaan rakyat di medan berlumpur
Sidoardjo dan daerah-daerah bencana di Sumatera, Jawa Tengah, NTT dan
tempat-tempat lain. Kontras itu segera menisbikan semua angka sukses
ekonomi yang diajukan pemerintah.
Isu keadilan itu tentu masih harus ditambah lagi dengan berbagai
kecurigaan dan ketidakpercayaan elite Jakarta dan kelas menengah
Indonesia terhadap keseriusan pemerintah dalam menuntaskan berbagai
perkara ekonomi-politik tingkat tinggi: kasus BLBI, skandal BI-DPR,
pembunuhan Munir, ancaman kebebasan beragama, konflik kepentingan dalam
kabinet, arogansi MA, kinerja buruk DPR, dst.
Tentu saja tidak semua problem itu adalah menjadi tanggung jawab
eksekutif. Di sini pemerintah dapat berkilah bahwa trias politika adalah
batas yang tidak boleh diintervensi pemerintah. Tapi sekali lagi,
kedudukan presiden amatlah sentral dalam menciptakan iklim bernegara
yang adil dan jujur, sehingga publik hanya tahu bahwa semuanya harus
ditagihkan pada Presiden. Begitulah politik oposisi bekerja.
Keadilan adalah ”rasa” yang tidak dapat diargumentasikan melalui
statistik. Betul bahwa produk kabinet adalah kebijakan yang diperlukan
untuk memajukan kemakmuran dan menjamin keadilan sosial. Betul bahwa
indikator-indikator ekonomi adalah peralatan profesional untuk
memastikan bekerjanya sebuah kebijakan. Betul bahwa dengan itu
legitimasi pemerintah diperkuat.
Tetapi jangan langsung berharap bahwa rumus ini bekerja sempurna.
Persoalannya adalah bahwa indikator-indikator itu tidak berbunyi secara
politik untuk dapat menuai legitimasi, justru karena kuatnya persepsi
bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah itu telah mengalami politisasi oleh
berbagai kepentingan politik dalam kabinet. Inilah sumber serangan balik
oposisi.
Media massa telah merumuskan urusan ini menjadi sentimen keadilan publik,
dan presiden hanya mampu menggerutu, karena fakta kerasnya memang masih
di situ: kabinet yang ia pimpin adalah lebih sebagai kumpulan
kepentingan politik ketimbang penghasil kebijakan yang profesional.
Inilah sesungguhnya problem utama dari terusiknya rasa keadilan publik
yang kemudian dikapitalisasi oleh para pengkritik Presiden. Sekali lagi,
di sini bukan statistik yang penting tetapi pudarnya kepercayaan
terhadap profesionalitas kabinet.
Dalam situasi transisional sekarang ini, kondisi keadilan merupakan
faktor yang paling krusial untuk diolah dalam kontestasi politik antara
pemerintah dan oposisi.
Psikologi publik memang paling mudah diayun-ayunkan dalam isu keadilan,
karena ia menyangkut langsung acuan kepastian hidup rakyat sehari-hari
dalam situasi politik yang serba tak pasti. Karena itu, sia-sia semua
pembuktian statistik oleh negara bila publik masih terus mencium aroma
transaksi politik tingkat tinggi dalam tubuh kabinet Yudhoyono.
Strategi Rapuh
Berhadapan dengan situasi ini, sangatlah buruk strategi presiden (dan
lingkaran dalamnya) yang terus-menerus bersikap defensif. Pemerintah
yang defensif adalah pemerintah yang sebetulnya tidak pernah mampu
membaca psikologi publik yang sesungguhnya.
Mengandalkan popularitas presiden yang masih tinggi sekarang ini,
bukanlah pijakan yang aman untuk mengolah strategi kontestasi dalam
pemilu nanti, karena setiap saat popularitas itu dapat pudar tiba-tiba
akibat berbagai inkonsistensi kebijakan kabinet yang memang sarat dengan
muatan politik kelompok.
Berhadapan dengan isu keadilan sosial, strategi defensif adalah strategi
yang amat rapuh, karena ia ikut membela kinerja buruk kabinet. Padahal,
justeru pada kabinetlah publik sedang mengarahkan kemarahannya.
Bila psikologi ini tidak dapat dibaca Presiden, sebuah kejadian politik
kecil dapat berakibat fatal pada reputasi kepemimpinannya. Bila strategi
defensif (dan terus menerus mengeluh) memang masih diminati Presiden
Yudhoyono, boleh jadi hari-hari awal 2008 ini dapat menjadi hari-hari
akhir popularitas pemerintahannya. (Sinar Harapan Jumat, 04 Januari 2008)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
|