| |
C © updated 20092008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/repro |
|
| |
BIODATA
Nama:
Ir. H. Salahuddin Wahid
Lahir:
Jombang, 11 September 1942
Agama:
Islam
Jabatan:
:: Pengasuh Pesantren Tebuireng
Alamat:
Jalan Tendean No. 2C, Jakarta Selatan.
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02
03 =
Oleh Salahuddin Wahid
Bersama (Siapa) Kita (Supaya) Bisa(?)
"Bersama Kita Bisa" adalah semboyan yang dikumandangkan duet SBY-JK
dalam kampanye pilpres 2004.
Semboyan itu berperan dalam membawa duet itu ke kursi kepresidenan.
Pidato kenegaraan (15/8/2008) diakhiri dengan: ”Harus Bisa! Apa pun
masalahnya, kapan pun masanya, seberapa pun keterbatasannya, kalau kita
bermental bisa, kita semua bisa dan Indonesia pasti bisa.”
Akan tetapi, ternyata pada 11 September 2008, pemerintah mengeluarkan
pernyataan mengejutkan: ”Tidak bisa menutup lumpur Lapindo”. Mengapa
pemerintah mudah menyatakan tidak bisa menutup lumpur yang sudah dua
tahun lebih menyengsarakan puluhan ribu warga Porong dan merugikan
jutaan warga Jawa Timur? Apa yang terjadi hingga pemerintah menyerah dan
terpaksa mengingkari semboyan ”Bersama Kita Bisa”?
Keputusan pemerintah untuk menyerah didasarkan informasi tenaga ahli,
terutama ahli geologi, yang menyatakan, bencana lumpur Lapindo adalah
akibat gempa bumi dan aliran lumpur tidak dapat dihentikan.
Padahal, ada pendapat bertentangan yang muncul dari tenaga ahli,
khususnya ahli pengeboran (drilling engineer). Juga datang dari sejumlah
ahli luar negeri, dari institusi terhormat dengan kredibilitas tinggi.
Pemerintah seharusnya mengetahui adanya para ahli yang berpendapat
berbeda, tetapi tidak pernah dimintai pendapat mereka.
Merasa tak mampu
Pemerintah tak bisa menutup lumpur karena memilih bersama para ahli yang
tidak yakin bahwa aliran lumpur itu dapat dihentikan, merasa tidak mampu
untuk dapat menutup atau mematikan sumber lumpur. Namun, jika bersama
para insinyur pengeboran itu, pemerintah akan yakin sumur itu bisa
dihentikan. Jadi, semboyan kampanye SBY-JK tahun 2004 perlu disesuaikan
menjadi: ”Bersama (ahli pengeboran yang percaya diri) Kita Bisa (mematikan
sumber lumpur)”.
Pertanyaannya, mengapa pemerintah memilih bersama tenaga ahli yang tidak
percaya bahwa sumber lumpur itu bisa ditutup? Mengapa pemerintah tidak
memilih bersama tenaga ahli berpengalaman dan percaya bahwa mereka
memiliki kemampuan dan keahlian untuk menutup sumber lumpur? Apakah
pemerintah dirugikan jika memercayai kemampuan anak bangsa yang juga
memiliki kepercayaan diri?
Pemerintah sama sekali tidak dirugikan, baik secara ekonomi maupun
politik. Sesuai Perpres No 14/2007, pemerintah menanggung biaya
penanggulangan dampak dan biaya hidup untuk korban yang tinggal di
daerah di luar peta lampiran perpres itu.
Tahun 2007, biaya yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 700 miliar.
Tahun 2008 bertambah, bisa di atas Rp 1 triliun. Juga tahun 2009 dan
seterusnya, sedangkan biaya untuk menutup sumber lumpur diperkirakan
sekitar 80 juta-120 juta dollar AS.
Memang belum pasti 100 persen sumber lumpur dapat ditutup. Tetapi,
melihat pengalaman para insinyur pengeboran yang lebih dari 30 tahun
dengan prestasi sejenis yang meyakinkan, peluang berhasil amat besar.
Insinyur pengeboran yang lain, saat berpengalaman baru beberapa tahun,
berani menyatakan, dia bisa menutup semburan gas yang luar biasa besar,
yang semula akan ditutup Red Adair dari AS. Ahli lain, dengan
kemampuannya, telah berhasil membuat perangkat lunak simulasi cara
mematikan semburan dan telah diverifikasi oleh hasil perangkat lunak
luar negeri.
Apakah mereka terlalu percaya diri dan mendahului keputusan Tuhan? Tidak!
Mereka memiliki kepercayaan diri berkat pengalaman selama 30 tahun lebih
didukung kemampuan yang dimiliki. Mereka adalah anak bangsa yang cerdas
dan berkemampuan yang merasa berutang pada bangsa dan ingin membayarnya
dengan keahliannya. Mereka adalah anak bangsa yang bermartabat, yang
percaya pada kemampuan dan pengalaman mereka.
Percaya diri
Jika sikap itu dianggap takabur, Bung Karno, Bung Hatta, serta para
pendiri bangsa tentu akan kita anggap takabur saat mendirikan bangsa
Indonesia. Bahwa kondisi negara kita amburadul, bukanlah karena rasa
percaya diri para pendiri bangsa, tetapi karena sikap kebanyakan
pemimpin bangsa kita yang tidak benar, termasuk sikap pesimistis dan
tidak percaya diri saat mengatakan, kita tidak bisa menutup sumber
lumpur Lapindo.
Mengapa pemerintah memilih bersama para ahli yang pesimistis, yang
notabene tidak mempunyai banyak pengalaman lapangan, daripada bersama
para ahli yang optimistis dan berpengalaman? Untuk apa Presiden
berpidato berkali-kali memompakan optimisme jika pemerintah sendiri
lebih percaya kepada tenaga ahli yang pesimistis? Hal itu jelas
merupakan kerugian imaterial yang amat besar.
Bersama para ahli yang merasa tidak mampu, kurang pengalaman, kurang
percaya diri, dan pesimistis kita tidak bisa menutup sumber lumpur itu.
Bersama para ahli yang mampu, berpengalaman, percaya diri, dan
optimistis, kita bisa menutup sumber lumpur. Lalu bersama siapa?
Uraian itu jelas menggambarkan bersama siapa seharusnya kita, yaitu
bersama para ahli pengeboran yang berpengalaman, percaya diri,
bemartabat, punya integritas dan niat baik. Jika dianggap belum jelas
keterangannya dan karena itu pemerintah belum yakin, mereka bisa
dipanggil untuk menjelaskan.
Jika perlu, dilakukan dialog dengan para ahli yang tidak yakin sumber
lumpur dapat ditutup, yang dihadiri pihak ketiga, yaitu tenaga ahli,
berpengalaman dari institusi luar negeri yang terhormat dengan
kredibilitas tinggi.
► ti (Opini Kompas, Sabtu, 20 September 2008)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|