| |
C © updated 21072004 -11032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ist |
|
| |
Nama :
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir :
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama :
Islam
Istri :
Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak :
Agus Harimurti Yudhoyono dan
Edhie Baskoro Yudhoyono
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Pendidikan:
= Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
= American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
= Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
= Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
= On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
= Jungle Warfare School, Panama, 1983
= Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
= Kursus Komando Batalyon, 1985
= Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
= Command and General Staff College, Fort = Leavenwort,Kansas, AS
Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
Karier:
- Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
- Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
- Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
- Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
- Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
- Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
- Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
- Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
- Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
- Dosen Seskoad (1989-1992)
- Korspri Pangab (1993)
- Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
- Asops Kodam Jaya (1994-1995)
- Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
- Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di
Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
- Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
- Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
- Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
- Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
- Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
- Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
- Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri) mengundurkan
diri 11 Maret 2004
Penugasan:
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988
Penghargaan:
- Adi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
- Honorour Graduated IOAC, USA, 1983
- Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003.
Alamat :
Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah
No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor-16967
|
|
| |
|
|
|
|
BIOGRAFI ==
01
02
03 04
05 06
07 ==
Susilo Bambang Yudhoyono (06)
Andalkan Popularitas Politik
SBY, demikian ia akrab disapa. Gaya dan tutur bicaranya tenang, sistematis dan
berwibawa. Sehingga ia populer bagi kaum ibu dan remaja putri.
Ia seorang yang beruntung memiliki popularitas politik. Pantas saja para pengamat politik memberinya julukan: Jenderal yang
Berpikir dan Tampan. Ia pun mendirikan Partai Demokrat yang kemudian memperoleh suara
signifikan pada Pemilu 2004 dan mengantarkannya menjadi calon presiden.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) Kabinet Gotong-Royong
ini mengundurkan diri dari jabatannya setelah mempersiapkan
diri untuk mencalonkan diri merebut kursi presiden bersaing dengan
Megawati.
Surat permintaan pengunduran dirinya
dikirim kepada Presiden Megawati, Kamis 11 Maret 2004 pagi, setelah sebelumnya ia
menyurati presiden, mempersoalkan kewenangannya yang "dipreteli", tapi
tidak ditanggapi oleh Megawati.
Pengunduran diri pria kelahiran Pacitan 9 September 1949 itu dilakukan
setelah dua minggu kemelut politik terbuka dengan Megawati. Keputusan
mundur dari kabinet itu tampaknya merupakan pemanasan dari kemelut panjang
dalam kancah perebutan kekuasaan. Dia pun beruntung dan berhasil meraih dan mengandalkan
popularitas politik.
Yudhoyono, yang secara cerdik makin populer lewat iklan pemilu damainya di televisi,
tampaknya telah memicu kemelut yang mengakibatkan orang-orang Megawati
gerah dan merasa dikhianati. SBY yang ketika diangkat menjadi Menkopolkam
sebagai pembantu presiden oleh Presiden Megawati adalah dengan
pertimbangan profesional. Namun 'jenderal simpatik' ini berhasil
memanfaatkannya secara politis untuk menjadi pesaing Megawati, presiden
yang mempercayainya.
Jenderal yang kelihatan simpatik, tampan, mudah senyum dan memikat
banyak perempuan ini, ketika mengumumkan permintaan pengunduran dirinya,
mengatakan "Sesuai
dengan hak politik saya, jika nanti pada saatnya ada partai politik,
katakanlah Partai Demokrat dan dengan gabungan partai lain yang
mengusulkan saya sebagai calon presiden, insya Allah saya bersedia."
Keputusan pengunduran dirinya dinilai berbagai pihak suatu keputusan yang
elegan. Dalam perjalanan kariernya, Yudhoyono, memang selalu ingin tampak
elegan baik dalam bertutur maupun bersikap. Sikap itu terlihat dalam
beberapa
peristiwa penting yang melibatkan langsung menantu Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
itu.
Proses pengunduran dirinya yang terkesan akibat tersisihkan dalam
Kabinet Megawati telah mengangkat populeritasnya yang tercermin dalam
perolehan suara Partai Demokrat pada Pemilu 2004 yang sangat signifikan,
menduduki peringkat lima.
Langkah karir politik mantan Kepala Staf Teritorial Markas Besar Tentara
Nasional Indonesia ini dimulai tanggal 27 Januari 2000 memutuskan untuk pensiun
lebih dini ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada
pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Ketika itu ia masih berpangkat
letnan jenderal dan akhirnya pensiun dengan pangkat jenderal kehormatan.
Kemudian pada 28 Mei 2001, bersama beberapa menteri tidak
merekomendasikan rencana Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Dekrit
Presiden. Bahkan tidak bersedia melaksanakan Maklumat Presiden yang
menugaskannya sebagai Menkopolsoskam untuk mengambil langkah-langkah yang
perlu untuk mengatasi krisis, memelihara keamanan, ketertiban dan hukum.
Akibatnya ia diberhentikan dengan hormat dari jabatan Menkopolsoskam
pada 1 Juni 2001, kerena menolak rencana Presiden mengeluarkan Dekrit. Ketika
ia ditawari jabatan Menteri Perhubungan atau Menteri Dalam
Negeri namun ditolaknya.
Lalu pada Sidang Istimewa MPR-RI, 25 Juli 2001, ia dicalonkan
memperebutkan jabatan Wakil Presiden yang lowong setelah Megawati
Sukarnoputeri dipilih menjadi presiden. Ia bersaing dengan Hamzah Haz dan
Akbar Tandjung.
Pada 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya
menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Dia pun tampak menjalankan tugasnya
dengan baik. Salah satu pelaksanaan tugasnya adalah mengumumkan
pemberlakuan status darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
pada 19 Mei 2003, serta proses penyelesaian konflik Ambon dan Poso.
Hal itu sangat menguntungkan SBY yang sudah berancang-ancang untuk
merrebut kursi presiden. Kemudian popularitasnya makin memuncak. Pertama kali dia masuk bursa
calon presiden, ketika Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia menimangnya
menjadi salah satu kandidat calon presiden dan wakil presiden. Kemudian,
Partai Demokrat menyebutnya sebagai calon presiden, bukan calon wakil
presiden.
Lalu iklan damainya muncul di berbagai stasiun televisi. Ia pun
menjawab pertanyaan wartawan yang menanyakan soal tidak dilibatkannya dia
dalam beberapa kegiatan kabinet yang menyangkut masalah politik dan
keamanan. Lalu, suami Presiden Megawati, Taufik Kiemas menyebutnya
kekanak-kanakan karena dinilai melapor kepada wartawan bukan kepada
presiden (1/3/2004). Ia pun beruntung karena beberapa pengamat membangun
opini bahwa ia sedang ditindas oleh Taufik Kiemas, suami Megawati.
Dalam pada itu, dua kali rapat kordinasi bidang Polkam batal dilakukan
karena ketidakhadiran para menteri terkait. Tampaknya para menteri terkait
tak lagi mempercayai dan menurutinya. Lalu pada 9 Maret 2004, dia
pun menyurati Presiden Megawati mempertanyakan kewenangannya sekaligus
minta waktu bertemu. Namun, Presiden tidak menjawab surat itu. Mensesneg
Bambang Kusowo kepada pers mengatakan tidak seharusnya seorang menteri (pembantu
presiden) mesti membuat surat meminta bertemu dengan presiden. Dia pun
diundang mengahadiri rapat menteri terbatas. Tapi ia tidak datang.
Ia merasa suratnya tak ditanggapi. Lalu pada 11 Maret 2004,
ia memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam karena merasa
kewenangannya sebagai Menko Polkam telah diambil-alih oleh Presiden Megawati
Soekarnoputri. Tampaknya ia sadar bahwa kewenangannya sebagai Menko Polkam
dan apa pun yang dilakukannya sebagai Menko Polkam adalah atas kepercayaan
Presiden.
Lalu, malam harinya, di sebuah hotel, ia bertemu
Abdurrahman Wahid yang diisukan sudah sejak beberapa waktu menimangnya
menjadi calon presiden dari PKB.
Langkah pengunduran diri ini dinilai berbagai pihak membuatnya lebih
leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya ke kursi puncak
kepemimpinan nasional. Pengunduran diri, jika jujur, sebaiknya telah
dilakukan sejak dua tahun sebelumnya. Berbagai hasil polling memang selalu menempatkannya
pada posisi terbaik, baik sebagai calon presiden apalagi sebagai calon
wakil presiden. Polling TokohIndonesia DotCom menempatkannya sebagai calon
wakil presiden yang paling puncak.
Hasil jajak pendapat yang diselenggarakan Centre for Political Studies-Soegeng
Sarjadi Syndicated, yang diumumkan Selasa 30/7/2002, nama Jenderal TNI (Purn)
Susilo Bambang Yudhoyono menduduki urutan teratas (15,5 persen) untuk
menjadi wakil presiden berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri (presiden)
dan urutan kelima (5,4 persen) berpasangan dengan Amien Rais. Jajak
pendapat ini melibatkan 4.133 responden yang rata-rata terpelajar di kota
Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Makassar,
Penampilan yang tenang dan berwibawa serta tutur kata yang bermakna dan
sistematis telah mengantarkan SBY pada posisi yang patut diperhitungkan
dalam peta kepemimpinan nasional. Penampilan publiknya mulai menonjol
sejak menjabat Kepala Staf Teritorial ABRI (1998-1999) dan semakin
berkibar saat menjabat Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH
Abdurrahman Wahid) dan Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati
Sukarnopotri).
Ketika reformasi mulai bergulir, SBY masih menjabat Kaster ABRI. Pada awal
reformasi itu TNI dihujat habis-habisan. Pada saat itu, sosok SBY semakin
menonjol sebagai seorang Jenderal yang Berpikir. Ia memahami pikiran yang
berkembang di masyarakat dan tidak membela secara buta institusinya. "Penghujatan
terhadap TNI itu menurut saya tak lepas dari format politik Orde Baru dan
peran ABRI waktu itu," katanya.
Banyak orang mulai tertarik pada sosok militer yang satu ini. Pada saat
institusi TNI dan oknum-oknum militernya dibenci dan dihujat, sosok SBY
malah mencuat bagai butiran permata di atas lumpur. Seperti pengalaman
yang hampir sama yang pernah dialami Jenderal Soeharto, ketika enam
jenderal TNI diculik dalam peristiwa G-30-S/PKI, malah 'the smiling
jeneral' itu berhasil tampil sebagai 'penyelamat' dan memimpin
republik selama 32 tahun.
Siapa sesungguhnya SBY
ini?
Ia yang pada masa kecil dan remajanya adalah penulis puisi, cerpen, pemain
teater, dan pemain band. Pria tegap kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9
September 1949 ini senang mengikuti kegiatan kesenian seperti melukis,
bermain peran dalam teater dan wayang orang. Beberapa karya puisi dan
cerpennya sempat dikirimkan ke majalah anak-anak waktu itu, misalnya ke
Majalah Kuncung. Sedangkan aktivitas bermain band masih dilaksanakan
hingga tingkat satu Akabri Darat sebagai pemegang bas gitar. Sesekali
masih juga menulis puisi.
Di samping kesenian, ia juga menyukai dunia olah raga seperti bola voli, ia
senang travelling, baik jalan kaki, bersepeda atau berkendaraan. Sedangkan
olah raga bela diri hingga saat ini masih aktif dilakukan.
Ia juga seorang penganut agama Islam yang taat. Darah prajurit Bapak
berputra dua ini menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan.
Tekadnya sebagai prajurit kian kental saat kelas V SD (1961) berkunjung ke
AMN di kampus Lembah Tidar Magelang. "Saya tertarik dengan kegagahan
sosok-sosok taruna AMN yang berjalan dan berbaris dengan tegap waktu itu.
Ketika rombongan wisata singgah ke Yogyakarta, saya sempatkan membeli
pedang, karena dalam bayangan saya, tentara itu membawa pedang dan senjata,"
kenang SBY.
Pendidikan militernya dimulai di Akademi Militer Nasional (1970-1973). Ia
adalah lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan Adi
Makayasa. Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course
di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di
Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle
Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan
Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di
Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort
Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster
University AS.
Dalam meniti karir, SBY sangat mengidolakan Sarwo Edhi yang tidak lain
adalah mertuanya sendiri. Dalam pandangannya, Sarwo Edhi adalah seorang
prajurit sejati. Jiwa dan logika kemiliterannya amat kuat. Selain belajar
strategi, taktik, dan kepemimpinan militer, mertuanya itu amat sederhana
dalam hidup dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip yang diyakini.
Tugas terberatnya sebagai Menko Polkam adalah mengembalikan
kepercayaan masyarakat dan dunia bahwa keamanan di Indonesia dapat
diwujudkan. Faktor keamanan inilah yang sering dijadikan investor asing
untuk membatalkan rencana investasinya di Indonesia. Sedangkan dari dalam
negeri, masyarakat sering kali merasa was-was dengan berbagai gangguan
seperti teror bom yang kerap terjadi.
Persoalan lainnya adalah, upaya menghentikan pertikaian di daerah konflik,
yang secara perlahan memperlihatkan kemajuan. Namun, karena besarnya
masalah yang dihadapi, keberhasilan tugasnya itu sering tidak ditanggapi
serius. Masih banyak pekerjaan besar menunggu untuk segera diselesaikan.
Menghadapi tugas berat, ternyata menjadi bagian sejarah hidup SBY yang
sebelum menjadi menteri sempat diprediksi bakal menjadi orang nomor satu
di lingkungan militer. Ketika Presiden KH Abdurrahman Wahid berkuasa, ia
sempat diberi tugas untuk melobi keluarga mantan Presiden Soeharto. Maksud
langkah persuasif yang dilakukannya itu agar keluarga cendana bersedia
memberikan sebagian hartanya kepada rakyat dan bangsa. Khususnya untuk
membawa pulang harta keluarga Soeharto yang diperkirakan masih tersimpan
di luar negeri. Padahal saat itu masyarakat tengah menunggu dengan seksama
hasil peradilan orang kuat Orde Baru tersebut.
Presiden Wahid pada awal tahun 2001 pernah memintanya untuk membentuk
Crisis Centre. Dalam lembaga nonstruktural ini Presiden Wahid meminta
Yudhoyono menjabat sebagai Ketua Harian dan menempatkan pusat informasi
atau kegiatan (operation centre) di kantor Menko Polsoskam. Lembaga baru
ini berfungsi untuk memberikan rekomendasi kepada Presiden Wahid dalam
menjawab berbagai persoalan. Termasuk di antaranya sikap Kepala Negara
dalam merespon pemberian dua memorandum oleh DPR.
Walau berulang kali menerima kepercayaan bukan berarti Yudhoyono ‘lembek’
dalam menghadapi Presiden Wahid. Ketika terdengar kabar Presiden Wahid
ngotot akan menerbitkan dekrit pembubaran DPR, maka, bersama Panglima TNI
Laksamana Widodo AS dan jajaran petinggi TNI lainnya, ia meminta Gus Dur mengurungkan
niatnya.
Siapa nyana, setelah batal menerbitkan dekrit, Presiden Wahid malah
mengeluarkan maklumat. Di sini pun Yudhoyono lagi-lagi mendapat ujian
karena Kepala Negara menunjuknya sebagai pejabat yang bertanggung jawab
untuk menegakkan keamanan dan ketertiban di Indonesia dalam menghadapi
Sidang Paripurna yang dikhawatirkan banyak pihak bakal menimbulkan konflik
di masyarakat. Tak lama setelah itu, Gus Dur malah melengserkan jabatan
SBY. Dalam Sidang Istimewa MPR, giliran Gus Dur yang diturunkan dari kursi
presiden dan digantikan Megawati. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|