| |
C © updated 18122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Biodata
Nama:
Zulkaidah boru Harahap
Lahir:
Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, 1947
Suami:
Pontas Gultom alias Zulkarnaen
Anak:
- Nurjunita
- Nurjuniati
- Bandit
- Halijah
- Metro
Pendidikan:
Tidak tamat SD
Pekerjaan:
- Opera Tilhang Gultom, 1960-1973
- Opera Serindo, 1973-1985
- Penjual tuak dan kacang goreng
|
|
| |
|
|
|
|
| ZULKAIDAH HOME |
|
|
 |
Zulkaidah br Harahap
Ratu Opera Tilhang dan Serindo
Zulkaidah br
Harahap), mantan maskot (ratu) opera Batak pimpinan Tilhang Gultom
(1960-1973) dan Opera Serindo (1973-1985), menggambarkan perjalanan
kehidupannya sebagai seniman tradisi Batak dengan ucapan: Ngeri-ngeri
sedap! Bermakna bahwa menjadi seniman tradisi
seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika.
Suka dan duka
kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang
begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi
dan langit.
Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini
sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima
kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang
menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi wasiat (alm)
Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang ikut
membesarkannya tersebut.
Agar bisa bertahan hidup, Zulkaidah harus berjualan tuak dan kacang
goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke
Tomok di Pulau Samosir sudah kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di
desa-desa yang bisa ia capai, tentu akan didatanginya.
Namun, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka
jenis sulim—seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan
lagu-lagu opera Batak—selalu menyertainya, bahkan di kala tidurnya.
"Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli,
kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan). Pernah
sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu tak jauh
dari pesta keramaian, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ’Namboru, sedih
’kali, ya, suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang.
Pokoknya ramai," ujar Zulkaidah.
Alhasil, tambahnya, tak ada lagi orang ke pesta itu. "Semua ngerubungi
aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia
borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian seperti
itu sering terulang di banyak tempat," katanya.
Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja, ia
masih berjualan tuak serta sedikit penganan di kedai kopinya di tepi
jalan raya Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di
salah satu tiang penyanggah, tak jauh dari tempat penggorengan,
tersangkut kantong kain lusuh berisikan peralatan sulim, yang hingga
kini masih setia menemani Zulkaidah.
Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di
Pematang Siantar, beberapa waktu lalu, Zulkaidah begitu energik ketika
memainkan sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian. Sesekali
vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian onang-onang (tentang
adat istiadat) dan ungut-ungut.
Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening itu,
Zulkaidah tak ubahnya bagai "ratu" yang selalu ditunggu kemunculannya di
atas panggung opera Batak.
Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain
opera Batak pada usia 13 tahun, Zulkaidah sudah merasakan pahit getir
hidup di tengah komunitas seni tradisi. Sampai kemudian "karier"-nya
meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu opera Batak,
ia pun tampil bagai sri panggung yang diidolakan.
Apalagi sejak suara beningnya mulai di-"rekam" dengan tape recorder saat
ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa bagai
hidup di atas awan. Katanya, "Seperti melayang-layang. Ke mana-mana
dijemput naik sedan."
Bahkan, setelah bangkrut pun ia mengaku masih "melayang-layang" bila ada
wartawan datang, difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para tetangga
kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng.
Lebih-lebih saat Rizaldi Siagian (etnomusikolog yang saat itu, 1989,
masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya.
Rizaldi mengajak Zulkaidah pergi untuk ikut pentas di tempat yang
baginya bagai tak terjangkau: New York, Amerika Serikat.
"Ke Amerika! Ya, ke Amerika. Ini foto-fotonya dan ini fotokopi
koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari panitia
dan dari pemerintah," kata Zulkaidah begitu antusias. Juga ketika ia
bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang.
Dua sisi mata uang
"Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku
meneruskan kelangsungan grup opera Batak yang telah ia bangun dengan
susah payah. Kata dia, ’Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini.
Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti mengancam,"
kata Zulkaidah mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan opera Batak
yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri.
Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip
teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama Tilhang
Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu "kelahiran"-nya pada
1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara.
Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van Biggelar,
misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.
Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang
Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan,
ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak bernama Seni
Ragam Indonesia alias Serindo tersebut.
Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang
sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang
Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan,
dan pergelangan kakinya pun dilego.
Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan
tetapi, ternyata "dunia luar" sudah berubah. Penontonnya sebagian besar
sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak
tontonan dan "pajak" tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan
Serindo kelimpungan.
Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun
1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga (alm)
Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia
bubarkan.
Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi Zulkaidah,
ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang
masak sampai pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, opera Batak
bagai sudah mengalir dalam darahnya.
"Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah.
Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat.
Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden saja,
padahal cuma penjual kacang goreng," ujarnya.
"Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air
kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh
orang kampung. Ha-ha-ha.... Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula
ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian...." (Kenedi Nurhan,
Kompas, Selasa 18 Desember 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|