|
Berita Utama MTI 39 (04)
Megawati Lebih Siap
Oleh Ch Robin Simanullang
Mantan Presiden Megawati tampaknya sudah jauh lebih siap untuk tampil
kembali di puncak kekuasaan sebagai Presiden 2009-2014. Bukan hanya
karena pendeklarasian pencapresannya yang sudah sejak awal, tetapi lebih
lagi dari semakin membaiknya perfomancenya setelah melakukan introspeksi.
Kini, Megawati Soekarnoputri tidak lagi hanya seorang ibu (perempuan)
yang pendiam. Dia seorang mantan Presiden. Seorang politisi yang
memimpin partai nasionalis besar
yang bergerak dewasa dengan segala dinamikanya. Dia pemimpin partai yang
paling ber-pengaruh dan berkuasa saat ini. Kematangannya sudah mencapai
puncak percaturan politik. Obsesi politik pengabdiannya sudah mencapai
ubun-ubun: Menjadi Pemenang!
Pengalaman dikhianati dan dipecundangi pembantu dekatnya, baik di partai
(PDIP) maupun di kabinet (Gotong Royong), terutama SBY-JK (termasuk Kwik)
sebagai Menko Polkam, Menko Kesra dan Menko Perekonomian yang diberi
kewenangan banyak termasuk berbicara banyak, tampaknya telah menjadi
guru yang baik baginya. Ini adalah area politik pengabdian! Di medan
area ini, ketulusan sangat penting, tapi ternyata tidak cukup.
Kesiapannya untuk kembali dalam kancah percaturan politik menggapai
kursi Presiden RI 2009-2014, menunjukkan obsesinya menjadi pemenang. Dia
tidak mau menjadi pecundang, karena kalah lalu berdiam diri. Dia melihat
jawaban dari kekalahannya untuk menjadi pemenang. Seorang pemenang
selalu melihat jawaban dari seriap masalah. Sedangkan seorang pecundang
selalu melihat masalah dari setiap jawaban. Kini, Megawati, tampaknya
sudah lebih siap jadi pemenang.
Salah satu sarana penting untuk menjadi pemenang adalah menguasai
informasi. Dalam era ini, siapa yang menguasai informasi dia akan
menjadi pemenang. Barangkali, hal ini yang masih mutlak dicatat tim
Megawati (PDIP). Walaupun PDIP sudah menyatakan akan menjaring Cawapres
melalui polling atau survei sebagai pertanda membaiknya pandangan mereka
tentang pentingnya menguasai informasi, tapi secara keseluruhan masih
jauh tertinggal dibanding SBY-JK (PD-PG), bahkan dibanding PKS, PAN dan
Partai Hanura.
Lihat saja kepiawian SBY menguasai dan mengelola informasi. Mulai dari
kepiawaiannya mengolah kata dalam berbicara dan berpidato. Sering
memberi keterangan pers, tanpa mengandalkan (nyaris tak memberi
kesempatan) para menterinya, nyaris juga tanpa batasan tempat dan waktu,
mulai di istana sampai ke gudang pabrik estasi. Tak cukup dengan itu,
dia pun mengangakat beberapa orang juru bicara, menerbitkan koran,
majalah, tabloid dan portal berita. Ditambah kedekatannya dengan lembaga
survei tertentu dan para pengamat profesional. Semua kekuatan informasi
itu bermuara pada pencitraan, popularitas.
Sangat keliru, jika pencitraan dan popularitas selalu dipandang negatif.
Memang, pencitraan dan popularitas bukanlah tujuan, melainkan sebuah
cara dan sarana untuk mencapai tujuan. Visi besar seorang tokoh akan
mudah dipahami dan diterima publik jika citra dan popularitas si pemilik
visi dikenal publik. Dalam kaitan ini, seorang pemimpin yang baik harus
mampu meyakinkan publik untuk mengikuti dan melaksanakan visi besarnya.
Dengan demikian, visi dan kepentingan pemimpin menyatu (dijadikan)
dengan kepentingan publik.
Informasi sangat berpengaruh, terutama dalam peta persaingan Capres 2009
yang semakin ketat. Ketatnya persaingan, antara lain terilhat dari
berbagai hasil survei menunjukkan makin terpolarisasinya para kandidat
seiring dengan mulai membaiknya perfomance beberapa kandidat.
Beberapa hasil survei menunjukkan posisi dan popularitas SBY masih lebih
tinggi dibanding sejumlah nama kandidat lainnya, termasuk Megawati yang
berada di urutan kedua. Namun ada trend popularitas SBY terus menurun
sementara popularitas Megawati terus menaik. Diperkirakan popularitas
SBY akan terus mengalami penurunan. Bahkan, pengamat politik, Indra J
Piliang mengatakan, bukan tidak mungkin akan terjadi titik kesetimbangan
kekuatan antara SBY, Megawati dan Sri Sultan HB X.
Bahkan hasil survei terbaru Lembaga Survei Nasional (LSN) yang
dilaksanakan 2-14 Mei 2008 di 33 provinsi dengan menggunakan teknik
multistage random sampling 1.225 orang, margin of error 2,8%, dan
tingkat kepercayaan 95%, menyebutkan, popularitas Megawati, untuk
pertama kalinya sejak empat tahun terakhir, berhasil mengungguli
popularitas SBY.
Kepala Divisi Riset LSN, Taufik Hidayat mengatakan jika pemilihan
presiden (Pilpres) dilaksanakan saat ini, Megawati akan memperoleh
dukungan sedikit lebih tinggi dari SBY (Megawati 16,7 persen dan SBY
16,4 persen). Namun, survei ini menunjukkan persaingan semakin ketat.
Sebab, meskipun popularitas Megawati tertinggi dibanding tokoh nasional
lainnya, namun tingkat dukungan kepadanya mengalami penurunan dibanding
Januari 2008. Megawati saat itu mendapat dukungan sebesar 18 persen, SBY
25,2 persen.
Dengan hasil survei ini, Taufik menyatakan patut meragukan obyektivitas
lembaga riset lainnya yang hasil surveinya masih menempatkan SBY di
posisi puncak, apalagi dengan tingkat dukungan di atas 30%. “Januari
saja, pemilih SBY hanya 25%. Maka, sangat tidak masuk akal jika setelah
kenaikan harga BBM yang kontroversial itu tingkat dukungan kepada SBY
malah naik menjadi di atas 30%,” kata Taufik.
Direktur Indo Barometer, Muhammad Qodari, juga melihat kebijakan
menaikkan harga BBM jelas akan mengurangi popularitas SBY. Hasil survei
Indo Barometer menunjukkan popularitas SBY turun sekitar empat persen
saat SBY pertama kali mengumumkan akan menaikkan harga BBM. Qodari
memperkirakan popularitas SBY pasti turun lagi setelah harga BBM
benar-benar dinaikkan.
Menurunya dukungan kepada SBY, bahkan juga Megawati, juga dipengaruhi
semakin membaiknya performance kandidat lainnya. Terlihat dari urutan
tingkat dukungan terhadap para kandidat Presiden 2009-2014 jika Pilpres
dilaksanakan Mei 2008, hasil survei LSN sebagai berikut: Megawati
(16,7%), SBY (16,4%), Sri Sultan HB X (6,9%), Hidayat Nur Wahid (5,8%),
Wiranto (5,1%), JK (4,1%), Amien Rais (3,7%), Abdurahman Wahid (3,4%),
Sutiyoso (1,7%), Akbar Tandjung (1,4%), dan tokoh-tokoh lain (3,5%),
serta mereka yang mengatakan rahasia atau belum memutuskan pilihan
(swing voters) sebesar 31,3%.
Siapa Cawapres
Kemungkinan kemenangan Megawati pada Pilpres 2009 nanti juga sangat
dipengaruhi ketepatan pilihan siapa Cawapres pendampingnya. Hal ini
tampaknya sangat disadari oleh Megawati dan PDIP. Pengalaman Pilpres
2004, saat Cawapresnya sangat kurang memberi tambahan suara signifikan,
tampaknya telah menjadi pelajaran berharga.
Maka untuk menjaring figur Cawapres pendamping Megawati, PDI-P tidak mau
gegabah. Partai ini membuka kesempatan bagi para tokoh di luar PDI-P
untuk menjadi Cawapres. Boleh diusulkan melalui pengurus ranting. Selain
penjaringan melalui mekanisme partai, juka diselenggarakan melalui
beberapa kali survei untuk mengetahui tingkat dukungan publik terhadap
Cawapres yang akan mendampingi Megawati.
Sejauh ini, menurut Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Pramono Anung,
pihaknya telah menjaring 17 nama. Awalnya PDI-P mendapat masukan untuk
menilai 88 orang, kemidian mengerucut menjadi 14 orang. Belakangan ada
tambahan tiga orang lagi sehingga menjadi 17 orang. Nama-nama ke-17
orang itu telah dikomunikasikan dengan Megawati.
Belakangan, setelah tiga kali melakukan survei internal (sampai Meu
2008), ada beberapa nama yang kerap menempati posisi lima teratas.
Berdasar isyarat (tidak secara eksplisit menyebutkan nama) yang
diberikan Sekjen PDI-P Pramono Anung seusai Diskusi Dialektika Demokrasi
di Ruang Wartawan DPR, Jumat (20/6/2008), kelima nama tokoh itu asalah
Sultan Hamengku Buwono X, Hidayat Nur Wahid, Wiranto, Akbar Tandjung,
dan Jusuf Kalla.
Menurut Pramono, kemudian sampai November, masih akan dilakukan dua
survei lagi untuk menentukan siapa calon yang layak. Hasil survei akan
dilaporkan pada rapat kerja nasional PDI-P di Solo, November, setelah
lebih dulu dipublikasikan kepada publik. “Semua peserta Rakernas akan
ikut memutuskan siapa calon yang layak mendampingi Ibu Mega. Jadi, bukan
diputuskan sendiri oleh DPP. Selanjutnya peserta Rakernas harus ikut
memenangkan Ibu Mega dan calon pendampingnya dalam Pilpres 2009,” ujar
Pramono.
Sementara itu, berdasarkan hasil survei LSN yang dilakukan pada Januari
dan Mei 2008 sebagaimana diungkapkan Direktur LSN Umar Bakry
(30/5/2008), menunjukkan enam nama Cawapres paling ideal untuk
mendampingi Megawati, yaitu Wiranto (45,6 persen), Sri Sultan Hamengku
Buwono X (45,6 persen), dan Prabowo Subianto (41 persen), Akbar Tandjung
(37,4 persen ), Sutiyoso (37 persen) dan Hidayat Nur Wahid (36,6 persen).
Sedangkan hasil survei Lembaga Riset Indonesia (LRI) yang dilakukan pada
pertengahan Mei 2008 memprediksi keterpilihan pasangan Megawati-Sultan
HB X (14,74 persen) jauh di atas kombinasi Yudhoyono-Sultan HB X (6,14
persen). Hasil survei lain juga menunjukkan nama dan angka-angka yang
beragam.
Di samping itu, sejumlah nama yang juga disebut-sebut pantas menjadi
Cawapres pasangan Megawati adalah Din Syamsuddin, Sutrisno Bachir,
Suryadharma Ali, Fadel Muhammad, Gamawan Fauzi, Anas Urbaningrum,
Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Agung Laksono, Syaykh Panji Gumilang dan
Sri Mulyani Indrawati.
Selain pengaruh figur, penetapan Cawapres juga ditentukan koalisi
antarpartai. Hampir dipastikan dengan sistim multi partai dan dalam
kondisi saat ini, tidak akan ada menjadi partai yang mendapat suara
mayoritas (single majority). Jadi untuk mengusung pasangan
Capres-Cawapres partai-partai akan berkoalisi. Tak terkecuali PDI-P,
walaupun partai ini diprediksi akan tampil kemabali sebagai pemenang
Pemilu legislatif, menyalip Partai Golkar yang diprediksi akan surut ke
nomor dua atau tiga.
Jika PDI-P berkoalisi dengan Partai Golkar, kemungkinan Cawapres adalah
Jusuf Kalla. Walaupun pilihan terbaik bagi PDI-P adalah Sri Sultan HBX
atau Akbar Tandjung. Kemungkinan lain adalah Aburizal Bakrie, Surya
Paloh, atau Prabowo Subiyanto.
Jika PDI-P berkoalisi dengan PKS kemungkinan Cawapres adalah Hidayat
Nurwahid atau Tifatul Sembiring. Jika denngan PAN, kemungkinan Cawapres
adalah Sutrisno Bachir atau Hatta Rajasa. Tapi jika dengan PPP,
kemungkinan Cawapres adalah Suryadharma Ali atau Bactiar Chamsah.
Berkoalisi dengan Partai Hanura, jika partai ini mendapat suara
signifikan 5% saja, kemungkinan Wiranto bisa jadi Cawapres.
Dari beberapa kemungkinan itu, ada info teranyar, sebagaimana
dikemukakan Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam sebuah diskusi publik
PKS dan Kepemimpinan Kaum Muda di Jakarta (19/6/2008), dari beberapa
studi terakhir menemukan koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)
dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi kekuatan paling ideal dalam
membangun pemerintahan.
Walaupun harus dipahami, menjalin koalisi partai tidak semudah memilih
figur (perorangan). Kesepahaman koalisi partai harus melalui mekanisme
partai, yang tentu linear dengan visi-misi partai. Dan, jika koalisi
berdasar dukungan partai yang dijadikan patokan, tidak mudah bagi PDI-P
(juga partai lain) menentukan siapa Cawapres sebelum Pemilu legisliatif.
Partai Golkar dan PKS kemungkinan tidak bersedia jadi Cawapres jika
meraih suara lebih besar dari PDI-P pada Pemilu legislatif. Begitu juga
partai-partai lainnya. Maka Jusuf Kalla atau Hidayat Nur Wahid tidak
mudah menerima pinangan Megawati menjadi Cawapres sebelum Pemilu
legislatif.
Sehingga walaupun PDI-P telah mengemukakan keinginan mengumumkan
Cawapres setelah November 2008, bisa saja hal itu urung dilakukan,
sampai menunggu hasil Pemilu legislatif.
Atau siapa tahu kejutan mungkin bisa terjadi, jika Megawati menyatakan
mengurungkan niat menjadi Capres dengan mengajukan Capres-Cawapres
alternatif, seperti Puan Maharani - Hidayat Nurwahid atau sebaliknya
Hidayat Nurwahid – Puan Maharani. Atau malah mengajukan Pramono Anung -
Sri Mulyani Indrawati atau sebaliknya Sri Mulyani Indrawati – Pramono
Anung. Walau kedua kemungkinan ini sangat kecil, tetapi jika benar-benar
terjadi akan menjadi pilihan menarik bagi publik.
Tapi yang pasti, sejauh ini, Megawati masih akan menjadi pesaing kuat
bagi siapa saja Capres lainnya. Semangat dan mental pemenang yang
digenggamnya. Prediksi Tokoh Indonesia, Megawati dengan siapa pun
berpasangan, paling rendah di posisi kedua. Bahkan kemungkinan akan
memenangkan Pilpres 2009, jika didukung pemilihan Cawapres pendamping
yang tepat. ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39 |
|
|
|